Repelita Jakarta - Dinamika internal lembaga penasihat kepresidenan kian memanas setelah salah satu anggotanya melayangkan pernyataan tajam mengenai integritas moral birokrasi di pusat kekuasaan.
Kritik radikal tersebut diutarakan sebagai bentuk penegasan sikap independen keilmuan dalam mengawal jalannya roda pemerintahan baru dari dalam sistem konstitusi.
ADVERTISEMENT
Pandangan teoretis mengenai kondisi lingkungan kerja eksekutif tersebut dipaparkan oleh Filsuf Rocky Gerung saat menghadiri diskusi interaktif di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored pada hari Kamis, 8 Oktober 2026.
Dalam dialog khusus itu, ia menegaskan status kelembagaannya yang memiliki kebebasan penuh untuk menyampaikan koreksi objektif tanpa terikat sekat kepartaian.
Ia memaparkan analisisnya terkait situasi sosiopolitik di ring utama pemerintahan dengan menyatakan, justru istana itu adalah sarang korupsi memas istana kemanya masuk ke sarangnya oh nanti prabowo tersinggung enggak akan bakal karena perjanjian saya dengan presiden begitu saya boleh ngomong apa aja sama seperti saya menulis paper akademis sama enggak ada kan.
Selain menyoroti ekosistem internal birokrasi pusat, ia juga melayangkan usulan taktis demi meredam gejolak penolakan publik pasca-putusan syarat kelulusan pemilu.
Menurut penilaian personalnya, pelepasan jabatan pimpinan tinggi secara sukarela merupakan opsi terbaik guna memulihkan stabilitas nasional dan mencegah amuk massa.
Ia menjabarkan rekomendasi moralnya di hadapan mantan anggota DPR RI tersebut dengan berpendapat, alangkah elegannya kalau gibran mengundurkan diri secara secara psikologi kenikmatan dengan uang itu enggak ada di gue gitu kampaknya.
Lebih lanjut, ia menerangkan motif keterlibatannya di dalam jajaran birokrasi yang murni didasari oleh misi mitigasi surplus kekuasaan eksesif.
Ia memastikan bahwa keberadaannya di lingkar utama eksekutif bertindak sebagai instrumen falsifikasi guna memberantas penyelewengan di balik meja kekuasaan.
Ia merinci target pergerakannya tersebut di akhir perbincangan dengan menegaskan, saya anti power anti power yang obsesif anti surplus kekuasaan jadi kalau gua masuk ke dalam untuk menghentikan surplus kekuasaan justru apa bedanya coba.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok