Repelita Jakarta - Tersangka kasus ijazah Jokowi, Rismon Sianipar, membongkar dugaan penggelapan dana hasil pengelolaan buku berjudul Jokowi's White Paper yang diduga dilakukan oleh Tifauzia Tyassuma.
Buku setebal hampir 700 halaman yang merupakan karya kolaborasi Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan Tifauzia Tiyassuma itu pertama kali diluncurkan pada 18 Agustus 2025 di Coffee Shop University Club Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Ketiganya kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus ijazah Jokowi di Polda Metro Jaya, namun di tengah proses hukum Rismon memutuskan pisah dari Roy Suryo dan kawan-kawan lalu mengajukan restorative justice seorang diri.
Setelah tak lagi berteman dengan Roy Cs, Rismon mulai membongkar kejanggalan kasus ijazah Jokowi dengan menyatakan bahwa dalam buku Jokowi's White Paper pun tidak ada kepastian bahwa ijazah tersebut palsu.
"Yang menunjukan ada angka 99 persen palsu, apa kalian tidak baca buku tulisannya Roy Suryo? tidak ada satupun angka yang merujuk ke 99,9 persen palsu. Saya sudah baca ini tuntas. dan metode apa? tidak ada," katanya.
Rismon menegaskan bahwa pernyataan Roy Suryo Cs selama ini merupakan tidak benar alias hoaks belaka.
"Itulah hoaks yang terus diglorifikasi dia sendiri di setiap dari tv ke tv mengatakan 99,9 persen palsu. Apa metodenya? coba metodenya? dimana itu ditulis, halaman berapa? gak ada," kata Rismon di kanal Youtube Balige Academy.
Ia menegaskan bahwa motif di balik kasus ijazah Jokowi sebenarnya adalah kepentingan politik menjelang Pemilu 2029 mendatang.
"Kalau tidak ada motif untuk memperpanjang kasus ini demi konten dan political game 2029 harusnya kau baca itu tulisan Roy Suryo itu. Tetap roy suryo ini terlepas dia terlibat atau tidak ya memang dipakai memperpanjang kasus ini," katanya.
Rismon bahkan membuka perhitungan keuntungan penjualan buku tersebut di mana versi premium dijual Rp500 ribu dengan modal Rp150 ribu sehingga untung Rp350 ribu per buku.
"1.000 buku aja versi premium sudah Rp 350 juta keuntungannya. Kalau 3.000 Rp 1 miliar, kalau 10 ribu berapa itu? Rp 3,5 miliar dapat dia," katanya.
Padahal menurut Rismon, porsi tulisan dirinya mencapai 70 persen atau sekitar 480 halaman dalam buku tersebut namun ia tidak pernah mendapat pembagian keuntungan.
"Padahal porsi tulisan saya 70 persen atau 480 halaman, dia tidak peduli. Saya saja bisa ditipu, apalagi kalian," katanya.
"Gak peduli dia hak orang lain. Begitu kalian moralitas macam itu kalian bilang penegak kebenaran? Cuma duit segitu aja dia gelapkan. Jadi jangan kalian glorifikasi mereka ini seperti dewa," kata Rismon.
Bahkan Rismon Sianipar secara tegas menyebut Roy Suryo sebagai peneliti gadungan.
"Ada satu peneliti gadungan, Roy Suryo, ada satu memanfaatkan bedah buku Jokowis White Paper untuk hubungan spesial mereka, harusnya buku JWP dikelola terbuka tetapi dimakan semua, dikelola secara tertutup seolah itu tulisannya," kata Rismon Sianipar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok