Repelita Jakarta - Gelombang desakan publik kian menguat meminta Pemerintah Republik Indonesia segera mengambil langkah taktis tingkat tinggi dengan meminta intervensi langsung dari otoritas Amerika Serikat guna menekan Tel Aviv agar segera membebaskan sembilan warga negara Indonesia yang ditahan oleh militer Israel.
Kendati opsi memanfaatkan pengaruh politik Washington dipandang sebagai solusi potensial, sejumlah pakar hubungan internasional justru menyoroti adanya hambatan psikologis dalam komunikasi bilateral yang baru saja terjalin.
ADVERTISEMENT
Pendekatan diplomatik yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap Donald Trump belakangan ini dinilai terlalu kompromistis, sehingga berpotensi mengurangi posisi tawar Indonesia di hadapan negara adidaya tersebut dalam misi penyelamatan sandera.
Kelemahan posisi tawar tersebut dikhawatirkan bakal membuat permohonan bantuan dari Jakarta dipandang sebelah mata oleh jajaran pemerintahan di Gedung Putih, mengingat relasi historis yang sangat intim antara Amerika Serikat dan sekutu utamanya di kawasan Timur Tengah.
Situasi darurat kemanusiaan yang menimpa para relawan kemanusiaan dalam misi laut menuju Gaza ini menuntut adanya keberanian politik dari kepala negara untuk merombak strategi komunikasi globalnya agar tidak terkesan inferior.
Apabila diplomasi yang dijalankan masih mengedepankan gestur yang terlalu berhati-hati, maka upaya pembebasan sembilan warga negara Indonesia tersebut diprediksi akan berjalan lambat dan terancam membentur dinding buntu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok