Berita, Nasional

Reza Indragiri Nilai Kasus Penyiraman Aktivis HAM Lebih Mirip Kriminal Konvensional daripada Operasi Intelijen Terselubung

Repelita.net

21 May 2026 18:16 WIB • 664 view

Reza Indragiri Nilai Kasus Penyiraman Aktivis HAM Lebih Mirip Kriminal Konvensional daripada Operasi Intelijen Terselubung
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Analisis sosiologi perilaku dari sudut pandang psikologi forensik mengenai penanganan kasus penyiraman zat kimia cair terhadap aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus menepis dugaan adanya orkestrasi misi operasi intelijen terselubung.

Ketiadaan parameter operasional baku ketentaraan dalam aksi kekerasan yang menyeret empat prajurit berseragam tersebut dinilai memperkuat indikasi bahwa peristiwa itu murni merupakan bentuk kriminalitas konvensional.

ADVERTISEMENT

Pandangan ilmiah mengenai dinamika psikologi pelaku serta karakteristik pembuktian perkara di panggung militer tersebut dibedah melalui program gelar wicara digital yang disiarkan saluran YouTube resmi @DiskursusNet.

Psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, memaparkan keganjilan taktis para terdakwa yang dinilai bertindak sangat ceroboh dan mengabaikan kaidah kerahasiaan utama sebuah komando operasi.

Ia menilai para pelaku sama sekali tidak melakukan kalkulasi matang untuk mengamankan posisi diri dari jerat sanksi pidana ketatanegaraan dengan meninggalkan banyak bukti fisik di lapangan.

Terkait dengan absennya upaya penyamaran visual yang dilakukan oleh barisan oknum anggota jajaran pertahanan strategis tersebut, beliau menjabarkan keganjilan tersebut lewat pertanyaan "kenapa sih kok terdakwa ini tidak menampilkan tindak tanduk yang harus dilakukan guna menghindari risiko pidana kenapa tidak pakai tutup muka he Kenapa tidak pakai sarung tangan kenapa membiarkan diri mereka disorot CCTV".

Lebih lanjut, ia memberikan catatan teoretis mengenai fenomena vicarious trauma atau luapan amarah dahsyat yang dialami seseorang hanya dengan menyimak rentetan pemberitaan media massa secara konstan.

Mekanisme guncangan kejiwaan tersebut dinilai logis menjadi pemantik munculnya dendam personal spontan dari para terdakwa meskipun yang bersangkutan tidak pernah bersinggungan langsung dengan aktivitas korban.

Berdasarkan pengalaman empiris mendampingi persidangan pidana berat masa lalu, karakteristik ketegasan serta gestur sinis dari ketua majelis hakim diproyeksikan bakal bermuara pada penjatuhan vonis hukuman yang sangat berat.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta mempercayakan jalannya proses hukum sepenuhnya pada objektivitas sistem peradilan militer tanpa harus terpengaruh oleh pusaran spekulasi kelompok luar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung