Berita, Timur Tengah

Radio Militer Israel Akui Gagal di Gaza dan Lebanon, Kini Front Iran Menganga usai Negosiasi Islamabad Buntu

Repelita.net

13 April 2026 11:15 WIB • 1,159 view

Radio Militer Israel Akui Gagal di Gaza dan Lebanon, Kini Front Iran Menganga usai Negosiasi Islamabad Buntu
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Pengakuan pahit dari radio militer Israel bahwa tujuan belum tercapai di front mana pun kini mendapatkan konteks baru yang jauh lebih mengerikan setelah front perang terbesar dengan Iran secara resmi terbuka lebar.

Saat Israel masih terperosok dalam rawa Gaza dan kebuntuan di Lebanon, dunia kini menahan napas menyaksikan blokade militer Amerika Serikat di Selat Hormuz yang dimulai hari ini.

ADVERTISEMENT

Seorang koresponden dari stasiun radio rezim Israel mengakui bahwa Tel Aviv beralih dari satu front perang ke front lainnya tanpa mencapai tujuan militer penuh di salah satunya pun.

Front keempat yang paling berbahaya telah secara resmi terbuka lebar sehingga semua front berada dalam keadaan terlibat.

Pengakuan ini bukan hanya soal Gaza atau Lebanon melainkan cerminan dari krisis strategis terbesar Israel sejak perang enam hari.

Jendela harapan untuk perdamaian ditutup dengan keras pada akhir pekan lalu setelah perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Amerika menyatakan bahwa meskipun upaya maksimal dilakukan, kedua belah pihak tidak dapat menjembatani perbedaan mendasar.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan kekecewaannya bahwa Teheran hanya berjarak beberapa inci dari kesepakatan sebelum akhirnya menemui perubahan target dari pihak Amerika.

Kegagalan ini secara efektif membatalkan gencatan senjata dua pekan yang telah menyelamatkan ribuan nyawa sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.

Sebagai respons langsung atas kegagalan diplomatik tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan akan memulai blokade angkatan laut terhadap semua kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai hari ini.

Langkah dramatis ini menargetkan Selat Hormuz yang menjadi titik transit seperlima pasokan minyak global.

Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban jika jalur itu tidak dibuka kini mengambil tindakan eksekusi.

"Sejarah telah menunjukkan bahwa hanya kekuatan yang membawa perdamaian," tulis Trump di Truth Social seraya mengancam tarif 50 persen bagi negara mana pun yang masih menjual senjata ke Iran.

Konsekuensinya langsung terasa karena pada perdagangan Senin (13/4/2026) pagi, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7 persen melewati angka 102 dolar AS per barel.

Perang yang dimulai pada 28 Februari lalu telah mencatatkan lebih dari 3.600 warga Iran tewas termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang gugur pada hari pertama serangan.

Di Lebanon lebih dari 1.800 orang tewas akibat serangan Israel yang terus digencarkan meskipun ada pembicaraan gencatan senjata.

Pernyataan radio Israel tentang tidak tercapainya tujuan menjadi sangat relevan karena tujuan membebaskan sandera dan membongkar Hamas di Gaza belum tercapai.

Tujuan mendorong Hizbullah ke utara Sungai Litani di Lebanon juga gagal total.

Tujuan utama melumpuhkan program nuklir Iran dan mengubah rezim di Teheran tidak terwujud karena Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz.

Israel kini menghadapi kemungkinan perang multi-front yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Menteri Energi Israel Eli Cohen secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan dilanjutkannya serangan terhadap Iran jika tidak ada kesepakatan.

Namun pernyataan ini kontras dengan kondisi internal IDF yang dilaporkan hampir runtuh karena kehabisan amunisi pencegat.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Laksamana Alireza Tangsiri memperingatkan bahwa pasukannya memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.

Kekhawatiran akan perang regional total semakin nyata karena Inggris dan Australia menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam blokade AS.

Paus Leo XIV menyerukan penghentian perang dengan tegas menyatakan cukup dengan pamer kekuatan dan cukup dengan perang.

Kegagalan Israel di semua front bukanlah berita lama melainkan potret saat ini yang sangat akurat.

Jarak antara janji kemenangan total dan realita pahit perang gesekan yang berkepanjangan kini terlihat jelas.

Timur Tengah saat ini berada dalam ketegangan tertinggi sementara Israel masih berjuang di rawa-rawa Lebanon dan kapal-kapal perang AS bersiap menutup jalur minyak dunia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung