Repelita [Jakarta] - Penilaian mengenai keharmonisan hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden RI ke-7 Joko Widodo disampaikan oleh Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia Ahmad Ali pada 27 Agustus 2026.
Mantan legislator tersebut mengimbau agar pergerakan politik dari kelompok luar tidak merusak jalinan komunikasi yang terjalin erat di antara kedua pemimpin tersebut.
ADVERTISEMENT
Usaha pihak tertentu yang mengeklaim bertindak atas nama Joko Widodo dinilai berpotensi menyisipkan kepentingan terselubung yang merugikan citra sang mantan presiden maupun keutuhan partai.
Kondisi hubungan internal kedua tokoh bangsa itu ditegaskan sedang berada pada fase paling kondusif dan saling mendukung.
"Hubungan Pak Jokowi dengan Pak Prabowo hari ini sedang baik-baik saja, sedang mesra-mesranya," kata Ahmad Ali mengklaim.
Kedekatan tersebut dibuktikan saat perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 pada pertengahan bulan ini.
Dalam agenda kenegaraan tersebut Joko Widodo tampak hadir mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam satu panggung yang sama.
Harmonisasi tersebut dipandang sebagai potret sukses dari kesinambungan serta transisi kepemimpinan nasional yang damai.
Partai Solidaritas Indonesia menegaskan komitmennya untuk berfokus pada perumusan langkah strategis guna menyokong efektivitas kinerja kabinet pemerintahan.
Pihaknya menolak terlibat dalam wacana perubahan masa jabatan kepemimpinan sebagaimana dilontarkan oleh Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi.
"Di PSI sendiri kami tidak pernah mendiskusikan hal tersebut, tapi justru bagaimana mencari solusi supaya kemudian pemerintahan ini semakin kuat di tengah-tengah masyarakat," ujarnya.
Pandangan yang diutarakan oleh pimpinan sukarelawan Projo tersebut dinilai sebagai bentuk luapan kekecewaan personal semata.
"Saya pikir apa yang disampaikan oleh Budi Arie itu adalah pernyataan pribadi, pernyataan orang-orang kecewa, pernyataan orang yang frustrasi," kata Ahmad Ali.
Pernyataan publik yang memicu spekulasi liar diminta untuk tidak ditanggapi secara berlebihan agar suasana politik tetap kondusif.
"Sehingga tidak perlu kita tanggapi, sehingga kemudian justru ini bisa membuat hubungan dua tokoh ini menjadi tidak bagus," pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok