Repelita [Jakarta] - Gejolak internal yang melanda Partai Solidaritas Indonesia kian memanas pasca-mundurnya sejumlah tokoh lawas akibat polemik hukum yang menjerat jajaran dewan pembina.
Kondisi ketidakkompakan struktural ini dinilai dapat mengancam rencana taktis partai dalam memperluas ceruk pasar pemilih baru menjelang kontestasi pemilu mendatang.
ADVERTISEMENT
Analisis mendalam mengenai dinamika konflik antar-faksi di tubuh parpol berlambang gajah tersebut diulas secara tajam melalui siaran program gelar wicara digital.
Diskusi bertajuk informasi lingkar dalam istana tersebut ditayangkan secara berkala melalui saluran YouTube resmi milik @MediaIndonesia.
Narasumber memaparkan adanya indikasi keretakan hubungan antara barisan pendiri lama dengan gerbong politisi senior yang baru bergabung dalam hitungan bulan.
Mantan pengurus teras, Ade Armando, meluapkan kekecewaan mendalam atas absennya pembelaan kolektif dari struktur pengurus pusat terhadap kasus hukum yang dihadapinya bersama rekan sejawat.
Ia mengungkapkan rasa keterasingannya di tengah pusaran perselisihan internal tersebut dengan menitipkan pesan kekecewaan melalui ulasan tertulis yang beredar luas di berbagai linimasa media sosial.
Di sisi lain, hilangnya solidaritas pengurus terhadap para kader senior diduga kuat merupakan bagian dari strategi perombakan citra kepartaian demi mendekati kelompok pemilih religius di daerah.
Terkait dengan instruksi diam yang dipilih oleh ketua umum saat ini dalam meredam gejolak internal tersebut, analis senior memberikan pandangan kritis mengenai kematangan manajerial kepemimpinan muda.
Jurnalis senior, Jaka Budi Santoso, mengulas adanya langkah penyingkiran taktis terhadap figur vokal lama yang dianggap dapat menghambat jalannya agenda konsolidasi baru.
Dalam pemaparannya, ia mengonfirmasi restu dari patron tertinggi di balik pergeseran struktur kepengurusan tersebut dengan menjabarkan bahwa "apapun yang dilakukan pengurus sekarang termasuk kalau dalam versi RD Armando itu menyingkirkan gitu ya Adik Armando itu kan pasti atas persetujuan atau atas restu Pak Jokowi".
Kapasitas manajerial ketua umum parpol saat ini dinilai tengah diuji dalam membuktikan kemandirian kepemimpinannya di hadapan publik tanpa harus terus bergantung pada bayang-bayang figur sang ayah.
Kegagalan dalam membangun soliditas internal dikhawatirkan akan membuat perolehan suara partai kian merosot serta menjauhkannya dari ambang batas parlemen senayan.
Guna mengantisipasi dampak buruk dari meluasnya perpecahan faksi, mantan kepala negara diklaim akan segera turun tangan secara langsung melakukan pergerakan lapangan ke ratusan kecamatan mulai bulan depan.
Langkah turun gunung yang dijadwalkan pada Juni dua ribu dua puluh enam ini diproyeksikan menjadi pertaruhan nama besar keluarga Solo dalam menjaga eksistensi politik jangka panjang di tanah air.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok