Berita, Nasional

Profesor Sulfikar Amir: Narasi AI Gibran Rakabuming Raka Sangat Naif dan Dangkal

Repelita.net

10 October 2026 22:36 WIB • 138 view

Profesor Sulfikar Amir: Narasi AI Gibran Rakabuming Raka Sangat Naif dan Dangkal
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Narasi bertema kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang belakangan ini gencar digaungkan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat ulasan kritis dari pengamat sosiologi teknologi internasional.

Pernyataan ilmiah tersebut dipaparkan langsung oleh Profesor Sulfikar Amir selaku Professor of Science dari Nanyang Technological University Singapura saat hadir dalam siniar bertajuk Madilog Forum Keadilan.

ADVERTISEMENT

Melalui video diskusi yang disiarkan oleh kanal YouTube Forum Keadilan TV, sang akademisi menguliti esensi dari promosi teknologi digital yang dinilai kurang menyentuh akar permasalahan mendasar.

"narasi-narasi yang dibangun oleh Gibran terkait dengan penggunaan EAI itu sangat naif sangat dangkal dan sebenarnya hanya mengglorifikasi artificial intelligence" ucap Sulfikar Amir mengkritik basis ketokohan digital sang pejabat.

Ia memaparkan temuan riset global dari Massachusetts Institute of Technology yang justru membuktikan adanya penyusutan konektivitas otak manusia akibat ketergantungan yang berlebihan pada sistem komputasi generatif.

Menurut pandangannya langkah mempromosikan adopsi ekosistem digital secara masif tanpa kesiapan kognitif serta regulasi etika yang matang berpotensi membawa dampak buruk bagi kualitas berpikir anak bangsa.

Dirinya juga turut mengaitkan kecenderungan menjauhi metode analisis mendalam tersebut dengan karakteristik kepemimpinan yang ditunjukkan oleh keluarga mantan presiden terdahulu.

"gibran ya mengikuti bapaknya itu sangat tidak suka yang namanya kajian ya Mereka sangat benci sama kajian kajian kajian gitu" tutur Profesor Sulfikar Amir dalam petikan wawancara daring pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Sesi edukasi ketatanegaraan tersebut ditutup dengan pesan sosiologis yang menekankan pentingnya akuntabilitas serta kematangan moral seorang pemimpin tertinggi dalam menelurkan kebijakan strategis.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung