Repelita Jakarta - Narasi bertema kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang belakangan ini gencar digaungkan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat ulasan kritis dari pengamat sosiologi teknologi internasional.
Pernyataan ilmiah tersebut dipaparkan langsung oleh Profesor Sulfikar Amir selaku Professor of Science dari Nanyang Technological University Singapura saat hadir dalam siniar bertajuk Madilog Forum Keadilan.
ADVERTISEMENT
Melalui video diskusi yang disiarkan oleh kanal YouTube Forum Keadilan TV, sang akademisi menguliti esensi dari promosi teknologi digital yang dinilai kurang menyentuh akar permasalahan mendasar.
"Gibran naif, dangkal, tak paham AI bisanya promosi doang" ucap Sulfikar Amir secara blak-blakan menilai keterbatasan kapasitas pemahaman sang pejabat terhadap sistem komputasi tersebut.
Ia memaparkan temuan riset global dari Massachusetts Institute of Technology yang justru membuktikan adanya penyusutan konektivitas otak manusia akibat ketergantungan yang berlebihan pada sistem kecerdasan buatan.
Menurut pandangannya langkah mempromosikan adopsi teknologi secara masif tanpa kesiapan kognitif serta regulasi etika yang matang berpotensi membawa dampak buruk bagi kualitas berpikir anak bangsa.
Lebih lanjut dirinya secara menohok menyamakan karakteristik kepemimpinan tersebut dengan gaya kepemimpinan sang ayah yang dianggap memiliki rekam jejak serupa.
"Gibran sama seperti bapaknya tak suka kajian ilmiah" tutur Profesor Sulfikar Amir menegaskan pola perilaku kebijakan publik yang dinilai menjauhi landasan riset kuat pada Sabtu, 10 Oktober 2026.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok