Berita, Nasional

Prof Hikmahanto soal Iran tutup Selat Hormuz, Indonesia beli minyak ke Rusia?

Repelita.net

13 April 2026 15:22 WIB • 998 view

Prof Hikmahanto soal Iran tutup Selat Hormuz, Indonesia beli minyak ke Rusia?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof Hikmahanto Juwana, menilai penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang disertai pembatasan akses bagi negara-negara tertentu berpotensi memaksa Indonesia untuk mencari sumber energi alternatif, salah satunya dari Rusia.

Pernyataan ini muncul seiring dengan rencana pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Rusia pada pekan ini untuk membahas ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Menurut Hikmahanto, kebijakan Iran yang membedakan akses bagi negara kawan dan lawan di Selat Hormuz dapat menimbulkan dilema bagi Indonesia dalam memilih sumber energi, terutama ketika opsi pasokan dari Rusia berpotensi berbenturan dengan tekanan politik dari negara-negara Barat.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, prinsip politik luar negeri bebas aktif yang berorientasi pada kepentingan nasional harus menjadi landasan utama pengambilan keputusan.

"Kalau kepentingan nasional mengharuskan kita mengambil keputusan tertentu, maka tekanan eksternal tidak boleh membuat Indonesia mundur," kata Hikmahanto dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Hal ini relevan mengingat Rusia telah membuka peluang untuk memasok minyak dan gas ke Indonesia di tengah pembatasan akses Selat Hormuz yang belum sepenuhnya terbuka meskipun masa gencatan senjata sedang berlangsung.

Sebelumnya, Indonesia berhasil mendapatkan lampu hijau dari Iran untuk dua kapal tanker Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz, berkat upaya diplomasi intensif pemerintah melalui perwakilan di Iran dan Kementerian Luar Negeri.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menjelaskan bahwa keadaan di Laut Persia dan Selat Hormuz saat ini sedang tidak baik-baik saja sehingga Iran menerapkan protokol perang yang mengharuskan setiap kapal berkomunikasi dengan pihak penjaga keamanan sebelum melintas.

Hikmahanto juga mengingatkan bahwa respons Amerika Serikat terhadap kebijakan Iran dapat memperumit situasi global, di mana negara yang dianggap teman oleh Iran berpotensi dianggap musuh oleh AS.

"Repotnya bila negara yang dianggap teman oleh Iran akan dianggap musuh oleh AS," kata Hikmahanto saat dihubungi pada Minggu (29/3/2026).

Untuk diketahui, Iran saat ini memiliki kendali efektif terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan sejumlah negara seperti Rusia, China, India, Thailand, Malaysia, dan Indonesia termasuk dalam kelompok yang diizinkan melintas.

Sementara itu, negara yang dikategorikan sebagai musuh seperti AS, Israel, dan Inggris tidak diberikan akses melintasi jalur strategis tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung