Repelita [Jakarta] - Keputusan pimpinan tertinggi badan sepak bola Eropa Aleksander Ceferin untuk memboikot laga puncak turnamen global menghadirkan hantaman telak bagi otoritas tertinggi olahraga sejagat.
Sikap absen sang pejabat di stadion utama dinilai sebagai bentuk protes keras atas serangkaian kebijakan kontroversial yang merusak kredibilitas kompetisi.
ADVERTISEMENT
Ketegangan bermula tatkala sanksi kartu merah penyerang tuan rumah dianulir secara mendadak akibat dugaan intervensi politik kekuasaan setempat.
Meski pihak penyelenggara global berdalih putusan tersebut murni lahir dari komite independen, otoritas benua biru tetap memandang langkah itu mencederai keadilan sportif.
Hubungan kedua lembaga kian meruncing menyusul polemik penolakan aturan rehat komersial serta molornya durasi istirahat babak final yang melanggar standar baku.
Kebijakan tarif tiket dinamis yang mencekik kantong suporter serta wacana penambahan kontestan turnamen masa depan turut memicu penolakan terbuka dari kubu Eropa.
Aksi boikot pimpinan tertinggi tersebut mengirimkan sinyal kuat bahwa tata kelola penyelenggaraan turnamen global tengah mengalami krisis kepercayaan yang mendalam(*)
Editor: 91224 R-ID Elok