Berita, Nasional

Prabowo Usul Gabungkan Gerindra dan NasDem ke Surya Paloh, Merger Bisa Kumpulkan 23 Persen Suara

Repelita.net

13 April 2026 15:25 WIB • 1,328 view

Prabowo Usul Gabungkan Gerindra dan NasDem ke Surya Paloh, Merger Bisa Kumpulkan 23 Persen Suara
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengusulkan penggabungan Partai NasDem dan Gerindra saat menerima Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di kediamannya di Hambalang, Bogor, pada Februari 2026.

Pertemuan empat mata pertama sejak Prabowo dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024 itu diulas dalam berita Mingguan Tempo berjudul Di Balik Ide Prabowo-Surya Paloh Menyatukan Gerindra-Nasdem yang terbit pada 12 April 2026.

ADVERTISEMENT

Surya membawa rombongan terbatas saat pertemuan di Hambalang, dan berbeda dengan pertemuan presiden bersama ketua umum partai politik biasanya, pertemuan ini dilakukan secara tertutup.

Surya dan Prabowo berbicara empat mata selama lebih dari satu jam tanpa kehadiran pihak lain di ruangan tersebut.

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengonfirmasi kebenaran pertemuan tersebut ketika dimintai tanggapan pada Rabu (8/4/2026).

"Benar bahwa keduanya sempat bertemu," ujar Sufmi Dasco Ahmad.

Tiga politikus yang dekat dengan Surya dan seorang pengurus Gerindra bercerita bahwa pertemuan itu mulanya membahas ambang batas parlemen.

Sebab pada Februari 2024, Mahkamah Konstitusi membuat putusan yang memerintahkan Dewan Perwakilan Rakyat menghitung ulang ambang batas perolehan suara partai sebagai syarat masuk Senayan.

Surya pun mengusulkan ambang batas parlemen naik dari 4 persen menjadi 8 persen kepada Prabowo.

Namun Prabowo meyakini bahwa jika syarat masuk DPR dinaikkan, partai kelas menengah dan kecil seperti NasDem bisa rontok pada pemilihan legislatif mendatang.

NasDem hanya mendapat perolehan suara 6 hingga 9 persen setelah mengikuti tiga kali pemilu sejak 2014.

Menurut pengurus NasDem yang mendengar cerita dari Surya, Prabowo kemudian melontarkan gagasan untuk menggabungkan Gerindra dengan NasDem.

Gabungan dua partai itu akan mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen berdasarkan hasil Pemilu 2024.

Namun tiga pejabat teras NasDem mengatakan bahwa Surya tidak melihat skema merger partai itu akan memberi manfaat kepada NasDem.

Ketiga narasumber itu juga bercerita bahwa Surya belum rela melepas partai yang dirintisnya sejak berbentuk organisasi kemasyarakatan.

NasDem memilih tetap menjalani perannya di pemerintahan Prabowo sebagai pendukung pemerintahan meskipun tidak mendapatkan kursi menteri di Kabinet Merah Putih.

Tiga pejabat teras NasDem menjelaskan bahwa skema penggabungan partai tidak realistis karena NasDem konsisten berada di peringkat kelima dalam dua kali pemilihan legislatif.

Cerita berbeda datang dari lingkaran dekat Prabowo, di mana seorang kolega Prabowo yang intens berkomunikasi dengan NasDem mengatakan bahwa ide penggabungan NasDem dengan Gerindra justru datang dari Surya.

Alasan yang disebut Surya kepada narasumber ini adalah skema merger bisa menjadi cara untuk menyederhanakan jumlah partai di Indonesia.

Orang dekat Prabowo ini mengungkapkan bahwa penggabungan partai justru menimbulkan kerumitan di lapangan.

Ia mencontohkan calon legislator dan daerah pemilihan bisa bertubrukan di wilayah yang selama ini dikuasai NasDem dan Gerindra.

Pengurus Gerindra ini justru memprediksi merger bisa membuat perolehan suara partai baru jeblok alih-alih meroket.

Narasumber ini menyarankan Gerindra dan NasDem berjuang untuk lolos ambang batas parlemen dengan usaha masing-masing.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum merespons permintaan wawancara untuk mengonfirmasi informasi ini hingga Sabtu (11/4/2026).(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung