Berita, Nasional

Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun di Tengah Lonjakan Harga Minyak Global

Repelita.net

10 June 2026 19:59 WIB • 960 view

Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun di Tengah Lonjakan Harga Minyak Global
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Langkah strategis menuju kemandirian energi kini tengah digenjot oleh Pemerintah Indonesia yang menargetkan posisi domestik bakal semakin tangguh dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Komitmen besar ini mencuat ke publik saat situasi pasar energi global sedang dilanda ketidakpastian tinggi yang memicu lonjakan harga minyak mentah di tingkat internasional.

"Kita menuju swasembada energi. Kita sedang bekerja keras, perhitungan kita tiga tahun lagi kita benar-benar sangat kuat di bidang energi," ujar Prabowo dalam Pembukaan Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Rabu (10/6). Tantangan ekonomi global saat ini dinilai tidak hanya menghantam tanah air, melainkan juga dirasakan oleh banyak negara lainnya akibat konflik geopolitik di wilayah strategis yang mengganggu rantai pasok energi.

ADVERTISEMENT

Presiden menggarisbawahi ketegangan di Timur Tengah yang berimbas pada jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia. Walakin, tanah air diklaim mempunyai modalitas yang kokoh guna menghadapi gejolak tersebut, termasuk keberhasilan sektor pangan yang memperkuat fundamen ekonomi domestik saat ini.

"Kita sekarang sudah swasembada pangan. Jangan kau anggap pangan itu tidak penting. Tanpa pangan tidak ada republik manapun di dunia ini," ujarnya. Guna memperkuat struktur ekonomi, pemerintah tengah mengakselerasi agenda industrialisasi lewat kebijakan hilirisasi komoditas agar nilai tambah sumber daya alam dapat sepenuhnya dirasakan di dalam negeri.

Langkah ini dirancang agar seluruh komoditas unggulan Nusantara tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah melainkan diolah menjadi produk jadi yang bernilai tinggi. "Kita akan melakukan industrialisasi melalui hilirisasi. Semua komoditas kita akan kita olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia," katanya.

Sinergi penguatan pada sektor energi, pangan, dan hilirisasi industri ini diharapkan menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional yang efektif menghadapi dinamika global yang tak menentu. Momentum penegasan strategi ini bertepatan dengan lonjakan harga minyak Brent yang menguat mendekati satu persen ke angka US$92,29 per barel dan WTI ke level US$88,97 per barel menyusul aksi militer AS ke Iran.

Imbas gejolak global tersebut langsung memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi oleh PT Pertamina Patra Niaga di dalam negeri mulai Rabu (10/6). Jenis Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara varian Pertamax Green 95 disesuaikan harganya menjadi Rp17 ribu dari sebelumnya Rp12.900 per liter.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung