Berita, Nasional

Prabowo Sebut Pakar “Goblok”, Arki Rifazka Soroti Kritik Anti-Intelektualisme: Kalau Salah, Tunjukkan Data dan Argumennya

Repelita.net

20 September 2026 23:23 WIB • 96 view

Prabowo Sebut Pakar “Goblok”, Arki Rifazka Soroti Kritik Anti-Intelektualisme: Kalau Salah, Tunjukkan Data dan Argumennya
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai sejumlah pakar kembali menjadi perbincangan setelah akun Threads @rq_arki menyampaikan pandangannya pada 20 September 2026.

Dalam unggahan yang dibuat sekitar satu jam sebelum tangkapan tersebut dibagikan, @rq_arki mengatakan dirinya telah melihat konteks lengkap pidato Prabowo dan tetap mempertanyakan penggunaan istilah “goblok” terhadap pakar yang mengkritik pemerintah.

ADVERTISEMENT

Akun tersebut menulis, “Setelah nonton konteks penuh pidato Prabowo, jujur saya tetap gak paham kenapa pakar yang mengkritik pemerintah perlu disebut “saking pintarnya jadi goblok.””

Dalam unggahan yang sama, @rq_arki mengakui Prabowo memang menyebut adanya pakar yang menurutnya menyebarkan fitnah serta mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual.

“Presiden memang bilang ada pakar yang menurutnya menyebarkan fitnah. Presiden juga meminta mereka menjaga intellectual honesty.”

Menurut @rq_arki, kepakaran tidak berarti seseorang selalu benar dan pendapat seorang pakar tetap dapat diperdebatkan apabila data maupun dasar analisisnya memiliki kelemahan.

“Ya, pakar memang wajib jujur. Pakar bisa salah. Pakar juga wajib dikritik kalau datanya lemah.”

Pernyataan Prabowo tersebut sebelumnya disampaikan dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026.

Dalam pidato itu, Prabowo mengatakan, “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo membahas kritik dari sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar.

@rq_arki kemudian menyampaikan pandangan bahwa kritik terhadap suatu analisis semestinya dibalas dengan penjelasan yang menunjukkan persoalan dalam analisis tersebut.

“Tapi kritik terhadap pakar mestinya dijawab dengan data, argumen, metodologi, atau bukti yang menunjukkan letak kesalahannya.”

“Kata “goblok” gak menjelaskan bagian mana dari analisis mereka yang salah.”

Dari situ, @rq_arki mengatakan dirinya memahami mengapa muncul kritik yang menggunakan istilah anti-intelektualisme terhadap pernyataan Prabowo.

“Makanya saya paham kenapa muncul kritik soal Prabowo anti-intelektualisme.”

“Istilah tersebut berarti sikap yang merendahkan, mencurigai, atau memusuhi peran kaum terdidik dan kegiatan intelektual.”

Dalam unggahannya, @rq_arki juga menyebut Prof. Henri Subiakto dari Universitas Airlangga sebagai salah satu pihak yang menggunakan istilah tersebut untuk menilai ucapan Prabowo.

Penilaian mengenai istilah anti-intelektualisme tersebut merupakan pandangan yang dikaitkan @rq_arki dengan komentar Henri Subiakto terhadap pernyataan Presiden.

Selain itu, @rq_arki menyebut Public Virtue Research Institute atau PVRI turut memberikan penilaian terhadap pernyataan Prabowo.

“Public Virtue Research Institute (PVRI) juga menyebut ucapan tersebut sebagai sikap anti-pengetahuan.”

Penilaian serupa mengenai sikap anti-pengetahuan juga diberitakan sebagai pandangan Direktur Eksekutif PVRI Muhammad Naziful Haq setelah pernyataan Prabowo pada 18 September 2026.

Dalam unggahan berikutnya, @rq_arki menjelaskan bahwa persoalan yang menurutnya perlu diperhatikan bukan sekadar siapa yang benar atau salah dalam perdebatan.

“Yang sedang saya bela yaitu orang yang menghabiskan hidupnya meneliti suatu bidang jangan dibungkam substansinya dengan ejekan.”

“Kalau analisis mereka salah, tunjukkan salahnya di mana. Kalau datanya keliru, keluarkan data yang benar.”

@rq_arki kemudian mengaitkan perdebatan tersebut dengan kebutuhan terhadap kritik berbasis pengetahuan dalam pemerintahan.

“Justru negara sebesar Indonesia butuh orang yang berani bilang kepada Presiden, “Pak, keputusan ini salah,” lalu sanggup menjelaskan alasannya.”

Dalam pandangannya, Presiden tetap memiliki ruang untuk tidak menyetujui kritik yang disampaikan oleh pakar maupun kelompok intelektual.

“Presiden boleh tidak setuju.”

Namun, @rq_arki menilai perdebatan mengenai kebijakan publik akan lebih sehat apabila pertukaran pandangan didasarkan pada bukti dan argumen.

“Tapi perdebatan kebijakan akan jauh lebih sehat kalau yang diadu adalah bukti dan argumen.”

Rangkaian unggahan tersebut merupakan pandangan @rq_arki terhadap pernyataan Prabowo dan perdebatan mengenai posisi pakar dalam memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok





View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung