Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa negara-negara Barat mungkin merasa bingung melihat polisi Indonesia ikut menanam jagung dan terlibat dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG, namun ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki pendekatan yang berbeda.
Kalau kau berangkat ke Inggris, Prancis, ke Barat, mungkin mereka merasa aneh, kok polisi urusin jagung, oh masa polisi kok buka dapur, ya ini Indonesia, Bung, demikian pernyataan Prabowo yang mengakui adanya potensi kebingungan dari pihak luar negeri.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Presiden tersebut kemudian mendapat tanggapan tajam dari sutradara film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono, yang justru menilai tidak ada kebingungan dari pihak luar terhadap keterlibatan aparat dalam proyek pangan.
Gak ada yang bingung, menang pemilu curang, legitimasi rendah, butuh dukungan otot, otak, ongkos, demikian ujar Dandhy dalam pernyataannya yang dikutip pada Jumat, 27 Maret 2026.
Ia kemudian menyinggung peran aparat keamanan dalam proyek tersebut dengan menyebut bahwa polisi dan tentara dijadikan sebagai otot yang diberi proyek dan logistik, kemudian dibungkus dengan narasi ketahanan pangan.
Dandhy juga mengkritik narasi ketahanan pangan yang dikaitkan dengan proyek penanaman komoditas tertentu, dengan mengatakan bahwa kebijakan tersebut tidak membutuhkan argumentasi yang kompleks.
Gak perlu cerdas buat beginian, cukup mental culas dan tahan malu, demikian sesal Dandhy yang menilai kebijakan tersebut tidak didasari pemikiran yang matang dan hanya mengandalkan keberanian moral.
Lanjut Dandhy, pengembangan komoditas dalam skala luas seperti jagung, singkong, atau tebu yang ditanam hingga jutaan hektar di Papua, tidak memiliki korelasi dengan kebutuhan pangan masyarakat secara langsung.
Ditegaskan Dandhy bahwa konsep food estate yang kembali diangkat sebagai kebijakan ketahanan pangan memiliki masalah mendasar, karena hasil dari banyak studi tidak mendukung gagasan tersebut.
Ia turut menyinggung sejarah kebijakan serupa yang disebutnya telah gagal sejak era sebelumnya, dengan mengatakan bahwa program tersebut berpotensi mengulang pola yang sama.
Tiga presiden sejak Soeharto sudah gagal, Prabowo akan jadi yang keempat, sudah gagal saat menjadi Menteri Pertahanan, demikian kunci Dandhy mengkritisi kebijakan yang dijalankan.
Sementara itu, Prabowo dalam pernyataannya sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu ragu-ragu dan tidak perlu menganggap apa yang berasal dari Barat itu pasti benar.
Kita tidak usah ragu-ragu, kita tidak usah menganggap apa yang dari Barat itu pasti benar, benar untuk mereka, kita hormati, tetapi kita lain, demikian Prabowo menegaskan pendekatan khas Indonesia.
Ia menuturkan bahwa kolaborasi antar institusi menjadi penting dalam menghadapi berbagai tantangan nasional, termasuk dalam hal ketahanan pangan yang menjadi prioritas pemerintah.
Prabowo juga menekankan bahwa seluruh institusi negara harus bekerja bersama demi kepentingan rakyat, dengan kolaborasi antara aparat keamanan dan pemerintah sebagai bagian dari semangat gotong royong.
Kita ini gotong-royong semua ini ya, kita satu keluarga, polisi punya kekuatan, tentara punya kekuatan, ya kita kerja semua untuk rakyat, demikian kata Prabowo menekankan pentingnya sinergi antar institusi.
Kalau rakyat sejahtera saya yakin kriminalitas berkurang, kalau rakyat hilang dari kelaparan dan kemiskinan, saya percaya kriminalitas akan sangat sedikit, pungkas Prabowo meyakini peningkatan kesejahteraan akan berdampak pada keamanan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok