Berita, Viral Sosmed

Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Harga Beras Naik: Seberapa Sejahtera Rakyat di Era Prabowo?

Repelita.net

13 October 2026 00:21 WIB • 100 view

Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Harga Beras Naik: Seberapa Sejahtera Rakyat di Era Prabowo?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Narasi evaluasi keberhasilan pembangunan nasional berbasis angka pertumbuhan ekonomi makro menuai ulasan kritis karena dianggap kontradiktif dengan realitas kehidupan masyarakat kelas bawah.

Kabar mengenai ketimpangan klaim keberhasilan program pemerintah tersebut sebelumnya diunggah secara publik oleh pemilik akun @rq_arki.

ADVERTISEMENT

Melalui publikasi media sosial pada hari Selasa tanggal tiga belas Oktober tahun dua ribu dua puluh enam itu dibahas kritik atas interpretasi sepihak otoritas istana.

Prabowo bilang ukuran pembangunan itu adalah meja makan keluarga, pekerjaan anak muda, harga yang adil, rumah yang layak, dan kehidupan rakyat sehari-hari.

Ulasan tersebut menyoroti pengumuman Kepala Bappisus pada tanggal lima Mei yang langsung menyimpulkan keberhasilan program usai BPS merilis pertumbuhan ekonomi sebesar lima koma enam puluh satu persen.

Tafsir politik yang dianggap sebagai generalisasi berlebihan itu kemudian disebarluaskan oleh pihak Setneg sebagai Komunikasi Komunikasi resmi pemerintah.

Di atas kertas, angka memang naik. Tapi di kehidupan sehari-hari, inflasi September sudah 3,28%, harga beras naik, dan responden CELIOS banyak yang bilang tekanan terbesar datang dari harga kebutuhan pokok dan susahnya kerja.

Fenomena ini memicu benturan cara pandang yang dinilai ironis antara keberhasilan angka agregat di atas kertas dengan kesulitan riil masyarakat mencari pekerjaan.

Survei CELIOS memang tidak wakili seluruh rakyat Indonesia, tapi benturannya tetap tidak terbantahkan: pemerintah lihat keberhasilan dari angka agregat, sementara rakyat merasakan ekonomi dari uang belanja, harga makanan, dan ada kerjaan atau tidak.

Generalisasi satu indikator PDB tersebut dipandang mereduksi standar ketat mengenai kebutuhan dasar yang pernah dikemukakan kepala negara dalam forum internasional resmi.

Dalam pidato di EEF ke-11 di Vladivostok, Prabowo menyampaikan bahwa pembangunan seharusnya dilihat dari kebutuhan dasar keluarga, harapan anak muda, harga yang terjangkau, rumah yang layak, dan listrik yang menyambungkan kehidupan.

Kritik tajam yang bergulir di media digital ini menjadi sinyal penting atas perlunya perbaikan tata kelola evaluasi program agar lebih berorientasi pada kesejahteraan riil.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung