Berita, Nasional

Perseteruan Roy Suryo vs Ahmad Khozinudin Kian Panas, Lempar Tudingan Cederai Perjuangan dan Beban

Repelita.net

14 July 2026 21:43 WIB • 710 view

Perseteruan Roy Suryo vs Ahmad Khozinudin Kian Panas, Lempar Tudingan Cederai Perjuangan dan Beban
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Konflik internal yang mencoreng tim pembela hukum Roy Suryo kini semakin memanas setelah kedua belah pihak saling lempar tudingan tajam.

Perseteruan ini dipicu oleh perbedaan mendasar mengenai strategi hukum dalam menghadapi perkara dugaan pencemaran nama baik terkait ijazah Joko Widodo.

ADVERTISEMENT

Ahmad Khozinudin secara tegas menolak adanya pendekatan mediasi politik yang dilakukan oleh sejumlah tokoh di lingkaran pembela Roy Suryo.

Ia menilai langkah diplomasi yang ditempuh Roy Suryo, Dokter Tifa, dan Refly Harun merendahkan substansi dan marwah perjuangan hukum yang seharusnya dilakukan.

Khozinudin berpendapat bahwa persoalan keaslian ijazah harus diuji secara terbuka dan tuntas di ruang pengadilan, bukan melalui meja kompromi.

Puncak dari retaknya hubungan ini terjadi saat acara Gerakan Merebut Kembali Kedaulatan Rakyat di Gedung Juang pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Khozinudin melontarkan analisis keras terkait skenario hukum yang ia yakini sedang dijalankan oleh kubu lawan demi keselamatan pribadi.

Khozinudin menyatakan dalam pidatonya:

Setelah praperadilan menang, status tersangka gugur, tidak ada sidang tentang ijazah Jokowi dan Jokowi tidak perlu lagi dalam persidangan.

Ia juga menyoroti penggunaan nota keberatan sebagai alat untuk menghindar dari pemeriksaan pokok perkara yang seharusnya menjadi fokus utama.

Khozinudin menuturkan:

Bagi yang mengajukan eksepsi mungkin itu kemenangan, tetapi bagi Jokowi eksepsi itu diterima juga jalan keluar agar dia selamat dan tidak perlu hadir dalam persidangan.

Lebih jauh, ia menyebut ada pihak yang mencoba mengkhianati perjuangan demi menyelamatkan diri sendiri di tengah proses hukum yang sedang bergulir.

Khozinudin menegaskan posisinya:

Juga skenario dari oligarki dan siapapun yang mengaku berjuang tetapi dia berkhianat pada perjuangan, kita tidak pernah membela orang per orang.

Ketika orang-orang itu sudah mengubah arah perjuangan, hanya mencari keselamatan sendiri, kemudian menghilangkan obyek perjuangan rakyat, kita tegaskan posisi kita bersama rakyat.

Menanggapi pidato tersebut, Roy Suryo menyatakan bahwa sikap mantan pengacaranya itu telah mencederai integritas perjuangan yang sedang dibangunnya.

Roy menganggap komentar yang dilontarkan Khozinudin tidak pada tempatnya dan justru merusak esensi upaya hukum yang tengah mereka tempuh.

Roy Suryo menegaskan:

Hal ini termasuk oleh karena adanya perbuatan oknum yang telah menciderai perjuangan saya dengan mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya pada acara GMKR yang dilaksanakan di Gedung Juang pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Terkait pencabutan kuasa tersebut, Roy menyatakan langkah itu diambil karena yang bersangkutan tidak lagi mendampingi proses persidangan dan dianggap menjadi beban perjuangan.

Roy Suryo menambahkan:

Yang pengkhianat adalah justru yang mengatasnamakan rakyat, tapi dia tidak berjuang atas nama rakyat, dia berjuang untuk kepentingannya dia sendiri. Apa itu, silakan terjemahkan sendiri.

Ahmad Khozinudin tidak tinggal diam dan memberikan serangan balik melalui pernyataannya dengan menyebut pihak Roy Suryo hanya sekadar cari selamat.

Khozinudin mengkritik perubahan arah perjuangan yang dilakukan oleh pihak yang awalnya ingin menuntaskan kasus ijazah tersebut ke pengadilan.

Ia menjelaskan kritiknya:

Dalam perjalanannya ada yang memutar haluan dan mengubah goal perjuangan. Dari yang mulanya menuntut Jokowi, menyeret Jokowi ke pengadilan dan menunjukkan ijazah, lalu dibuktikan 99,9 persen palsu, dan diketok palu hakim menjadi 100 persen palsu.

Berubah membuat goal sendiri, yakni menyelamatkan diri dari proses hukum. Padahal, goal ini sama saja mengubur harapan rakyat yang selama ini ingin kasus ijazah Jokowi dituntaskan.

Khozinudin menutup dengan sindiran tajam kepada pihak yang dianggapnya takut akan konsekuensi hukum di penghujung jalan.

Khozinudin menutup dengan komentar:

Kalau sejak awal pengecut, takut risiko, harusnya diam. Tak perlu ikut sibuk membangun keyakinan publik atas ijazah palsu, lalu setelah di ujung mau cari selamat sendiri. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung