Repelita [Jakarta] - Pimpinan lembaga urusan gizi negara memberikan penjelasan lanjutan terkait ucapannya perihal konsumsi telur yang memicu perbincangan hangat di ruang publik.
Respons kritis lantas datang dari tokoh publik yang menyoroti metode komunikasi aparat pemerintah dalam menyampaikan edukasi gizi kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
Kritikan pedas tersebut dilayangkan melalui unggahan pada akun media sosial X miliknya pada hari Selasa, 11 Agustus 2026.
"Inilah alasan Indonesia Perunggu 2095," tulis Nabiyla dalam unggahannya di X, Selasa, 11 Agustus 2026.
Pegiat sosial tersebut berpendapat bahwa institusi negara seharusnya memikul tanggung jawab moral dalam mencerdaskan publik lewat informasi valid.
Pihaknya menyayangkan langkah penyampaian pesan yang dianggap kurang matang dan justru membebani pemahaman warga.
“Pemerintah: memberi edukasi yang benar,” tulisnya.
Dirinya lantas membandingkan idealisme tersebut dengan realitas lontaran ucapan pejabat tinggi yang dinilai asal bunyi.
“Pemerintah: berkomentar ASBUN dan SALAH, kemudian menyuruh rakyat untuk memperbaikinya,” tulis Nabiyla.
Sebelumnya, pejabat tinggi instansi gizi tersebut sempat menuai cibiran warganet akibat klaim personal mengenai pengalaman masa kecilnya dengan makanan hewani.
Meski demikian, yang bersangkutan akhirnya meluruskan bahwa dirinya sangat memahami ketiadaan korelasi medis antara konsumsi protein hewani dan timbulnya penyakit kulit.
“Saya dicibir di medsos, karena saya dari kecil makan telor. Saking banyak makan telor, sampai bisulan,” kata Sudaryono di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.
Dirinya mengakui secara sadar bahwa mitos tersebut sama sekali tidak memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya juga ngerti, bahwa bisul sama makan telor itu tidak ada hubungannya,” ujarnya.
Di sisi lain, pejabat terkait berdalih bahwa narasi kontroversial itu sengaja dihembuskan guna memantik kepedulian para tenaga ahli kesehatan.
Pihaknya ingin membongkar mitos tradisional yang masih mengakar di perkampungan agar segera diluruskan oleh kalangan profesional.
“Tapi memang saya sengaja melempar ini, dan alhamdulillah banyak ahli gizi di media sosial speak up semua,” kata Sudaryono.
Strategi kehumasan tidak konvensional tersebut diklaim berhasil mendongkrak kesadaran kolektif mengenai pentingnya sumber pangan bernutrisi tinggi.
“Maka perlu banyak ahli yang menjelaskan, memanfaatkan sosial media untuk berkampanye, bahwa salah satu protein terbaik itu telur. Harganya relatif murah dibanding sumber protein lain,” ujarnya.
Tujuan utama dari kehebohan tersebut diyakini mampu menjadi sarana kampanye murah meriah bagi pemenuhan gizi masyarakat luas.
“Itu maksud dan tujuan saya, untuk memancing para ahli gizi. Dan alhamdulillah banyak dari ahli gizi yang terpancing untuk berkomentar,” katanya.
Perdebatan terbuka ini terjadi di tengah masifnya sosialisasi program makan gratis bergizi yang tengah digalakkan oleh pemerintah pusat. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok