Repelita Harare - Narasi kontroversial terkait kebijakan penjatuhan sanksi kurungan terhadap pasangan sesama jenis kembali mencuat ke ruang publik dan memicu diskusi hangat mengenai rekam jejak diplomasi masa lalu.
Langkah hukum ekstrem tersebut merujuk pada pernyataan mendiang mantan kepala negara wilayah bagian selatan benua Afrika yang dikenal sangat vokal dalam menentang eksistensi kelompok minoritas gender di negaranya.
ADVERTISEMENT
Tokoh sentral tersebut sempat mengeluarkan instruksi sarkastik yang berbunyi "PENJARAKAN PASANGAN LGBT YANG MENIKH DALAM SATU SEL DAN BEBASKAN MEREKA BILA BERHASIL MELAHIRKAN ANAK.".
Gagasan radikal itu sengaja dilontarkan sebagai bentuk analogi hukum alam sekaligus pembuktian biologis terhadap validitas hubungan yang dijalin oleh kelompok tersebut di dalam lembaga pemasyarakatan.
Selama memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam kurun waktu hampir empat dekade, figur otoriter ini secara konsisten menerapkan kebijakan domestik yang menutup rapat ruang gerak komunitas non-heteronormatif.
Hingga saat ini otoritas yudisial setempat masih terus memberlakukan aturan pelarangan aktivitas penyimpangan seksual tersebut secara mengikat di dalam lembaran hukum tertinggi negara pasca wafatnya sang proklamator.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok