Repelita [Jakarta] - Direktur eksekutif lembaga survei sekaligus analis dinamika politik nasional, Pangi Syarwi Chaniago, memberikan sebuah pesan peringatan dini kepada Presiden Prabowo Subianto agar senantiasa waspada dan terukur dalam mengoperasikan roda kepemimpinan negara.
Menurut kalkulasi pandangan strategisnya, eskalasi problematika serta benturan kepentingan yang masif justru lazim bermunculan ke permukaan pada saat momentum masa jabatan seorang kepala negara mulai mendekati garis akhir.
ADVERTISEMENT
Analis kawakan tersebut menilai bahwa ketika seorang tokoh politik masih berada di pucuk hierarki tertinggi birokrasi, hempasan kritik serta gelombang ketidakpuasan publik biasanya belum terlalu memberikan dampak tekanan yang signifikan.
Namun dinamika tersebut dipastikan bakal berbalik arah secara drastis pada waktu legitimasi kekuasaan serta pengaruh politik sang pemimpin di lingkaran elite mulai mengalami penyusutan.
“Kadang kekuasaan itu bikin tuli dan buta. Kekuasaan itu sewenang-wenang,” ujar Pangi di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Minggu, 24 Mei 2026.
Ditambahkan olehnya, realitas sosiologis dalam panggung politik tanah air ini sepatutnya dijadikan sebuah refleksi mendalam bagi Prabowo Subianto agar tidak terbuai oleh kondisi stabilitas koalisi yang terlihat tenang pada masa-masa awal ini.
“Presiden Prabowo harus hati-hati ke depan. Sekarang memang tidak ada masalah, tapi ketika nanti akan mengakhiri pemerintahannya, masalah bisa muncul,” katanya memprediksi peta kerawanan politik masa depan.
Guna memperkuat argumentasi ilmiahnya, Pangi menyuguhkan analogi konkrit dari rentetan peristiwa kurang menguntungkan yang belakangan ini tengah menimpa Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Dirinya melihat bahwa rupa-rupa gugatan hukum, cemoohan, hingga koreksi total terhadap kebijakan masa lalu justru semakin gencar dialamatkan kepada mantan wali kota Solo tersebut usai dirinya melepas tongkat estafet kepemimpinan nasional.
“Nah itu yang dialami Jokowi. Itu pengingat dan alarm bagi Pak Prabowo,” ujarnya memberikan perbandingan historis yang fundamental.
Berdasarkan pengamatannya, sosok mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut saat ini seolah terus berada di bawah bayang-bayang sorotan tajam publik, mulai dari mencuatnya kembali polemik keabsahan dokumen akademik hingga rupa-rupa persoalan masa lalu yang sengaja digali kembali oleh berbagai pihak.
“Betapa tersiksanya Jokowi hari ini karena semuanya bunyi semua, masalah dan aibnya dibuka,” katanya menggambarkan situasi pelik yang sedang berkembang.
Ia juga menyoroti manuver dari figur mantan presiden tersebut yang dinilai masih kerap memberikan atensi publik serta pernyataan sikap terkait arah kebijakan nasional, meskipun yang bersangkutan secara formal telah memasuki masa purnatugas di kampung halamannya.
“Selalu mengomentari soal bangsa, padahal kan sudah pensiun dan kembali ke Solo. Mungkin ini lebih mengawal Gibran,” pungkasnya menutup sesi wawancara mendalam tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok