Berita, Timur Tengah

Perang Ubah Iran Jadi Kekuatan Utama Dunia lewat Kendali Selat Hormuz

Repelita.net

06 April 2026 23:04 WIB • 1,183 view

Perang Ubah Iran Jadi Kekuatan Utama Dunia lewat Kendali Selat Hormuz
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Di tengah gemuruh konflik yang tak kunjung reda antara Amerika Serikat dan Iran, peta kekuatan global perlahan bergeser bukan melalui kemenangan militer yang telak, melainkan lewat kendali sunyi atas urat nadi energi dunia di Selat Hormuz.

Selama ini dunia mengenal tiga poros kekuatan besar yaitu Amerika Serikat, China, dan Rusia, namun perang yang meletus sejak awal tahun mengoyak asumsi lama tersebut.

ADVERTISEMENT

Iran yang secara ekonomi dan militer tak sebanding dengan tiga raksasa itu justru menemukan celah kekuatannya dengan mengendalikan jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi Selat Hormuz, menjadikan jalur ini bukan sekadar perairan melainkan denyut kehidupan ekonomi modern.

Ketika Iran menerapkan blokade selektif dengan menciptakan ancaman konstan, arus kapal tanker merosot tajam hingga lebih dari 90 persen karena rasa takut yang menjalar lebih cepat daripada peluru.

Perang pun berubah wajah menjadi permainan persepsi risiko, di mana satu serangan sporadis terhadap kapal tanker sudah cukup untuk mengguncang pasar asuransi dan melambungkan biaya logistik.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengakui bahwa membuka kembali jalur tersebut tanpa persetujuan Iran adalah sesuatu yang tidak realistis.

Pernyataan itu menjadi pengakuan tak langsung bahwa kendali de facto atas Selat Hormuz kini berada di tangan Teheran.

Dampaknya menjalar jauh melampaui kawasan Teluk, karena negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan India sangat bergantung pada energi dari kawasan ini.

Ketika pasokan menjadi tak pasti, bukan hanya harga yang naik tetapi stabilitas ekonomi ikut terguncang akibat inflasi yang mengintai dan mata uang yang tertekan.

Di tengah pusaran itu, Iran justru memanen keuntungan strategis bersama China yang haus energi dan Rusia yang diuntungkan oleh harga minyak tinggi.

Terbentuklah poros kepentingan baru yang bukan aliansi formal tetapi keselarasan kepentingan yang mengarah pada satu hal yaitu melemahkan dominasi Barat.

Jika Iran menguasai sekitar 20 persen aliran minyak dunia, Rusia 11 persen, dan China menjadi penyerap utama, maka keseimbangan global akan bergeser drastis.

Dunia bisa memasuki era baru di mana energi bukan lagi sekadar komoditas melainkan alat tawar utama dalam politik internasional.

Bagi Amerika Serikat, pilihan yang tersisa kian sempit antara mempertahankan kendali lewat operasi militer jangka panjang yang mahal atau menerima tatanan baru di mana pengaruhnya tak lagi dominan.

Perang ini pada akhirnya bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan perang yang mengubah struktur dunia.

Jika berlangsung cukup lama, bukan tidak mungkin sejarah akan mencatatnya sebagai titik balik saat Iran dari pinggiran melangkah masuk menjadi salah satu pusat kekuatan global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung