Berita, Internasional

Pentagon Dihujani Kritik Kongres soal Perang Iran, Gedung Putih Terjepit

Repelita.net

01 May 2026 13:57 WIB • 1,022 view

Pentagon Dihujani Kritik Kongres soal Perang Iran, Gedung Putih Terjepit
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Gedung Putih dilaporkan kian terpojok setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine dicecar habis-habisan oleh Kongres AS soal perang Iran.

Dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat AS pada Kamis (30/4/2026), Hegseth menghadapi kritikan keras dari para anggota parlemen untuk pertama kalinya sejak serangan terhadap Iran dilancarkan pada 28 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

Hegseth berulang kali mengecam para kritikus perang termasuk anggota parlemen dengan menyebut mereka ceroboh karena dianggap telah membantu musuh-musuh Amerika Serikat.

Dia juga membantah tudingan bahwa militer AS mengalami krisis amunisi akibat perang Iran serta mengklaim persediaan amunisi militer Amerika dalam kondisi baik.

"Seperti yang saya katakan kemarin, dan akan saya katakan lagi hari ini, musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah para penentang yang gegabah dan kata-kata pesimistis dari anggota Kongres Demokrat dan beberapa Republikan," kata Hegseth dalam pernyataan pembukaannya.

Kritik para senator muncul di tengah serangkaian laporan yang menunjukkan adanya ketidakjujuran dalam keterangan yang disampaikan Menteri Pertahanan tersebut.

Beberapa anggota parlemen menuduh bahwa amunisi yang menipis berpotensi membuat Amerika Serikat rentan di medan perang lainnya di berbagai belahan dunia.

Minggu lalu, New York Times melaporkan bahwa banyaknya rudal siluman jarak jauh dan rudal pencegat Patriot yang mahal telah memaksa militer untuk menambah persenjataan dari wilayah lain.

Para pejabat Pentagon mengatakan kepada anggota parlemen bahwa AS telah menghabiskan 25 miliar dolar atau setara lebih dari Rp428 triliun sejak perang dengan Iran dimulai.

Sebelum melancarkan perang, Pentagon dilaporkan telah mengurangi beberapa kantor yang terlibat dalam pengawasan terhadap korban sipil dalam konflik.

Pengurangan staf terjadi di Pusat Keunggulan Perlindungan Sipil yang bertugas menilai tingginya jumlah korban sipil selama perang global Amerika Serikat.

Senator Demokrat Kirsten Gillibrand melontarkan pertanyaan tajam tentang serangan AS terhadap sekolah perempuan di Minab yang mengakibatkan kehancuran fasilitas sipil.

Republikan Mike Rounds juga mempertanyakan apakah Pentagon masih memiliki sumber daya yang memadai untuk melindungi warga sipil di zona konflik.

Senator Jack Reed meyakini bahwa Hegseth telah menyebabkan kerugian jangka panjang bagi militer Amerika Serikat.

"Saya khawatir Anda telah memberi tahu presiden apa yang ingin dia dengar, alih-alih apa yang perlu dia dengar," kata Reed mengkritik Hegseth.

Sementara itu, Komando Pusat (CENTCOM) membagikan foto-foto di media sosial yang menunjukkan persediaan sedang dimuat ke kapal perusak rudal USS Delbert D Black.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengancam bakal meluncurkan serangan dua kali lipat dari sebelumnya jika Amerika Serikat melanggar perjanjian gencatan senjata.

Komandan Angkatan Udara IRGC Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi menegaskan bahwa perang tahap baru akan dimulai jika Amerika dan Israel melanggar proses negosiasi.

Semua serangan yang sebelumnya diluncurkan oleh Iran akan dikalikan dua kali lipat pada gelombang serangan baru nanti.

Teheran juga disebut telah menyiapkan daftar target baru yang mencakup fasilitas minyak Saudi Aramco, Yanbu, dan pipa Fujairah di Timur Tengah.

"Trump berpikir dengan ancaman-ancaman yang dilontarkan, Selat Hormuz akan terbuka dan harga minyak akan turun. Padahal jika ancaman itu dilakukan, maka Presiden Amerika Serikat itu harus menyaksikan harga minyak mencapai 200 USD dalam beberapa hari mendatang," demikian pernyataan pihak Iran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung