Berita, Nasional

Pengamat: Perang Laut Iran 2026 Wujudkan Filsafat Kalahkan Musuh Tanpa Bertempur

Repelita.net

20 April 2026 15:33 WIB • 1,032 view

Pengamat: Perang Laut Iran 2026 Wujudkan Filsafat Kalahkan Musuh Tanpa Bertempur
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Peperangan laut Iran 2026 dinilai bukan sekadar benturan kinetik biasa, melainkan manifestasi mendalam dari filsafat perang yang telah lama berkembang.

Menurut Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim, strategi Iran dalam konflik ini mengacu pada pandangan klasik Sun Tzu dalam The Art of War.

ADVERTISEMENT

“Iran mempraktikkan seni menaklukkan musuh tanpa bertempur secara langsung melalui disrupsi kognitif dan ekonomi. Di sini, laut dipandang bukan sebagai medan pertempuran statis, melainkan sebagai ruang aliran yang dinamis,” kata Salim dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026.

Lanjut dia, teori "Sea Denial" atau penolakan laut yang dianut Iran adalah bentuk modern dari filsafat Small Navies yang berfokus pada pencegahan dominasi lawan.

Teori tersebut membuktikan bahwa pendekatan asimetris merupakan jawaban paling efektif atas hegemoni global yang dimiliki oleh kekuatan besar.

“Strategi ini didukung oleh teori Antisipasi Strategis yang dikembangkan oleh filsuf militer modern, yang menekankan bahwa kemenangan dimulai dari dalam pikiran. Iran menggabungkan Teori Attrisi (pengausan) dengan filsafat perlawanan Ashura, sebuah keyakinan bahwa pengorbanan dan keteguhan moral mampu meruntuhkan kekuatan material yang jauh lebih besar,” jelasnya.

Kandidat doktor di Universitas Airlangga itu menyebut secara teoretis bahwa strategi Iran selaras dengan Doktrin Gerasimov tentang perang hibrida.

Dalam doktrin tersebut, serangan siber, tekanan ekonomi, dan operasi psikologis memiliki bobot strategis yang sama dengan peluncuran rudal konvensional.

“Mereka (Iran) juga memahami filsafat The Center of Gravity dari Clausewitz bukan lagi pada pusat komando militer musuh, melainkan pada opini publik dan kestabilan pasar global,” ungkap Salim.

Bagi Indonesia, sambungnya, peperangan laut Iran mengajarkan filsafat "Catur Laksamana", yaitu kemampuan untuk melihat ke empat penjuru mata angin dengan kecerdasan strategis.

“Teori Green Water Navy yang dikombinasikan dengan pertahanan pantai berlapis menunjukkan bahwa kedaulatan maritim tidak selalu menuntut kepemilikan kapal induk besar, melainkan integrasi yang cerdas antara teknologi dan kondisi geografis. Kita diingatkan oleh filsafat Tirta Amarta, bahwa air adalah sumber kehidupan sekaligus senjata mematikan bagi mereka yang tahu cara menghormatinya,” beber Salim.

“Inspirasi ini memanggil rakyat Indonesia untuk tidak hanya bangga pada luas wilayah, tetapi memiliki kedalaman strategi; bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah setiap tantangan di laut menjadi tangga menuju kejayaan global,” tambahnya.

Masih kata Salim, dalam kancah Perang Laut Iran 2026, dunia menyaksikan lahirnya sebuah doktrin pertahanan yang mengguncang pakem militer konvensional.

Teheran mengusung filosofi radikal yang berbunyi: "Jika kami tidak bisa menang dengan cepat, maka lawan tidak boleh menang sama sekali".

“Semboyan ini bukan sekadar retorika, melainkan nyawa dari strategi Attrition War (perang pengausan) yang dirancang untuk menjebak kekuatan besar dalam rawa-rawa konflik yang tanpa akhir, mahal, dan melelahkan secara mental. Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berdiri di persimpangan kepentingan global, filosofi ini memberikan pelajaran bahwa ketahanan nasional tidak diukur dari seberapa cepat kita menghancurkan musuh, melainkan dari seberapa mustahil kita untuk ditaklukkan,” bebernya lagi.

“Kita harus mampu menciptakan kondisi di mana setiap jengkal perairan Nusantara menjadi labirin yang mematikan bagi siapapun yang mencoba mengganggu kedaulatan kita,” tandas Salim mengakhiri pernyataannya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung