Berita, Internasional

Pemimpin Redaksi The Grey Zone Sebut Aliansi AS-Israel Ancam Kebebasan Pers Global Usai Intimidasi Liputan Iran

Repelita.net

22 July 2026 23:09 WIB • 1,089 view

Pemimpin Redaksi The Grey Zone Sebut Aliansi AS-Israel Ancam Kebebasan Pers Global Usai Intimidasi Liputan Iran
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pimpinan redaksi portal investigasi independen internasional melontarkan kecaman keras terhadap aliansi strategis antara Washington dan Tel Aviv yang dituding menciptakan ancaman serius bagi kelangsungan kerja-kerja jurnalistik global.

Peringatan tersebut mengemuka menyusul insiden perlakuan sewenang-wenang yang dialaminya setibanya di tanah air usai merampungkan agenda peliputan investigasi di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Petugas otoritas bandara melakukan perampasan paksa terhadap gawai pribadi miliknya setelah dirinya dengan tegas menolak memberikan izin akses pemeriksaan isi perangkat komunikasi tersebut.

Tindakan intimidatif itu dinilai sama sekali tidak memiliki legitimasi hukum yang sah serta mencederai prinsip perlindungan hak konstitusional warga negara.

Tokoh media tersebut meyakini bahwa intervensi aparat keamanan ini berkaitan erat dengan substansi karya reportase serta orientasi sudut pandang politik yang diusungnya selama berada di Teheran.

Tekanan sistematis tersebut disinyalir digerakkan oleh elemen-elemen berkepentingan yang bersekutu dengan kekuatan asing tertentu dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Menurut saya, saya dijadikan target karena pandangan saya, karena pekerjaan jurnalistik saya, dan karena ada pihak-pihak yang pada dasarnya mengendalikan pemerintahan Trump dan kebijakannya terhadap Iran yang berasal dari Israel, ucapnya, dikutip pada Rabu, 22 Juli 2026 melalui kanal YouTube @glenndiesen.

Selama melawat ke wilayah konflik tersebut, dirinya aktif mendatangi pelbagai titik kehancuran, menggali keterangan dari para pejabat, kaum cendekiawan, hingga masyarakat awam.

Upaya ini ditempuh demi menyajikan perspektif alternatif yang selama ini sengaja dibungkam atau diabaikan oleh arus utama media massa barat.

Seluruh rangkaian aktivitas peliputan itu dipastikan murni berorientasi pada prinsip keterbukaan informasi publik dan jauh dari motif pelanggaran hukum maupun rekayasa politik.

Saya diserang karena saya membongkar para pelaku kejahatan, bukan karena saya melakukan kejahatan, tegasnya.

Situasi krisis kebebasan informasi ini di Daratan Amerika diidentifikasi sebagai sinyal kemunduran demokrasi di tengah memanasnya percaturan geopolitik global saat ini.

Kita sedang berada di masa yang sangat berbahaya, dan ini masa yang berisiko besar bagi jurnalisme independen.

Kami di The Grey Zone ada di garis depan situ, dan kami diserang ke alasan itu, pungkasnya.(*).

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung