Berita, Viral Sosmed

[PANAS] Dedi Mulyadi Skak Mat Abu Janda Usai Jabar Disebut Barbar: "Semua Orang Bisa Hidup Nyaman di Sini", Tegaskan Toleransi dan Kerukunan Warga Sunda

Repelita.net

04 June 2026 13:36 WIB • 817 view

[PANAS] Dedi Mulyadi Skak Mat Abu Janda Usai Jabar Disebut Barbar: "Semua Orang Bisa Hidup Nyaman di Sini", Tegaskan Toleransi dan Kerukunan Warga Sunda
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kecaman keras datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menyanggah pernyataan kontroversial Abu Janda karena menyematkan predikat wilayah barbar pada daerah yang dipimpinnya tersebut. Sang kepala daerah memberikan jawaban menohok sekaligus meluruskan persoalan gesekan sosial hingga esensi kerukunan antarwarga di sana.

Langkah penolakan ini mencuat setelah pegiat media sosial bernama asli Permadi Arya itu diadukan ke Bareskrim Polri atas dugaan penyebaran ujaran kebencian terhadap masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat pada hari Selasa, tanggal 2 Juni 2026. Tudingan miring yang dilontarkan lewat platform digital tersebut sontak memantik gelombang protes besar dari warga setempat karena merasa dihina dan direndahkan martabatnya.

ADVERTISEMENT

Pihak Sekretaris Jenderal DPP PKDP, Irwandi, menyatakan bahwa "Pernyataan tersebut dinilai menghina dan menyakiti seluruh masyarakat Sumatera Barat. Selain itu, juga berpotensi membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa serta menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat." Imbas dari ucapan tersebut kini berbuntut panjang pada proses hukum.

Bukan hanya tanah Minang yang disasar, melainkan wilayah tatar Sunda juga ikut dikategorikan sebagai daerah yang tidak beradab oleh figur publik tersebut. Menanggapi stigma sepihak itu, Pemimpin Jawa Barat langsung membentengi wilayahnya dengan menegaskan bahwa penduduk Jabar sejatinya memiliki rekam jejak yang panjang dalam merawat keterbukaan serta toleransi.

Dedi Mulyadi memaparkan pandangannya bahwa penilaian buruk itu sama sekali tidak berdasar jika dikaitkan dengan provinsi berpenduduk paling padat di tanah air ini. Menurutnya, potensi benturan sosial biasanya hanya terlokalisasi di kawasan urban yang padat dan majemuk, tempat bertemunya kaum pendatang yang membawa dinamika tersendiri.

Gubernur menyampaikan pembelaan bahwa “Kalau ada konflik intoleransi, lebih disebabkan karena miskomunikasi. Bahkan pelakunya sering bukan warga asli Jawa Barat,” tuturnya saat memberikan klarifikasi resmi. Beliau mengklaim situasi riil di tengah masyarakat kini justru semakin aman dan angka perselisihan terus menyusut.

Karakter dasar Jawa Barat ditegaskan sebagai wilayah ramah yang selalu terbuka bagi kedatangan masyarakat luar, baik untuk mengadu nasib maupun menetap. Sambil menepis anggapan miring yang beredar, ia kembali menyuarakan kalimat penegasan demi menenangkan suasana batin warganya.

Beliau melontarkan pernyataan bersayap yang menegaskan posisi wilayahnya dari tuduhan keji tersebut, “Tidak ada kalimat barbar bagi Jawa Barat. Semua orang bisa hidup di sini dengan nyaman,” ucapnya dengan nada penuh keyakinan.

Ia menambahkan argumen pendukung bahwa pertikaian yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan hampir mustahil dijumpai di wilayah administrasi yang dipimpinnya. Jikapun sesekali muncul riak terkait pendirian tempat peribadatan, pemerintah daerah selalu berhasil menuntaskannya lewat jalan musyawarah yang damai.

Di akhir penjelasannya, sang pemimpin daerah menekankan kembali pentingnya menjaga kerukunan sosial yang ada di tengah warga, “Konflik rumah ibadah bisa diselesaikan dengan pendekatan harmoni,” urainya. Harapan besar dititipkan agar tanah Pasundan senantiasa menjadi tempat bernaung yang aman bagi setiap manusia tanpa membedakan asal-usulnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung