Berita, Timur Tengah

Netanyahu Kaget Bukan Kepalang, Trump Larang Keras Israel Bombardir Lebanon Lewat Truth Social, Israel Baru Tahu dari Laporan Media Bukan Saluran Resmi

Repelita.net

19 April 2026 17:25 WIB • 969 view

Netanyahu Kaget Bukan Kepalang, Trump Larang Keras Israel Bombardir Lebanon Lewat Truth Social, Israel Baru Tahu dari Laporan Media Bukan Saluran Resmi
Foto: Istimewa

Repelita Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para penasihatnya dilaporkan terkejut dan khawatir bukan karena serangan rudal dari Iran atau Hizbullah, tetapi karena sebuah unggahan media sosial dari sekutu terdekatnya sendiri, Presiden AS Donald Trump.

Dalam unggahan mengejutkan di Truth Social pada Jumat, 17 April 2026, Trump menyatakan bahwa Israel dilarang oleh AS untuk melakukan pemboman lebih lanjut di Lebanon dengan huruf kapital yang menekankan kemarahannya.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini bertentangan dengan teks perjanjian gencatan senjata yang baru saja disepakati dan ditandatangani kedua negara, di mana Israel secara eksplisit mempertahankan haknya untuk membela diri terhadap serangan yang direncanakan atau sedang berlangsung.

Lebih membuat Netanyahu panas dingin, kabar tentang larangan keras ini pertama kali diketahui oleh para pejabat Israel bukan dari saluran diplomatik resmi melainkan dari laporan media, menambah rasa dikhianati di pihak Israel.

Seorang sumber dari Pemerintahan AS kemudian mengonfirmasi bahwa Israel meminta klarifikasi resmi melalui Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter, dan Gedung Putih bergerak cepat untuk meredakan ketegangan.

Pejabat AS menjelaskan bahwa perjanjian gencatan senjata dengan jelas menyatakan Israel tidak akan melakukan operasi militer ofensif terhadap target Lebanon, namun tetap mempertahankan haknya untuk membela diri terhadap serangan yang direncanakan atau sedang berlangsung.

Trump juga mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk pembicaraan yang bermakna, menunjukkan hubungan strategis AS-Israel tetap berjalan.

Namun fakta bahwa Israel tidak diberi tahu sebelumnya tentang larangan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam dinamika kekuasaan di Asia Barat akibat perlawanan Iran di kawasan.

Netanyahu dalam pernyataan televisi pada Jumat, 17 April 2026, menegaskan bahwa ada beberapa hal yang direncanakan terkait ancaman roket yang tersisa dan ancaman drone yang tidak akan dirincikan.

Ia juga menegaskan bahwa zona penyangga keamanan sedalam 10 km di Lebanon selatan akan tetap dipertahankan, dengan menyatakan bahwa kami ada di sana dan kami tidak akan pergi.

Sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut menggambarkan bahwa Netanyahu secara pribadi terkejut dan khawatir mengetahui postingan dari sekutu dekatnya tersebut.

Ironisnya, pada Jumat malam beberapa jam setelah Trump melontarkan larangan kerasnya, Israel dilaporkan telah melakukan serangan drone ke Lebanon selatan dengan klaim bahwa Hizbullah-lah yang melanggar gencatan senjata terlebih dahulu.

Para analis melihat peristiwa ini sebagai momen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan AS-Israel, di mana dukungan AS tidak lagi tanpa syarat terhadap kebijakan militer Israel.

Bagi Israel, ini adalah peringatan bahwa Trump mungkin masih menjadi sekutu terbesar di Gedung Putih, tetapi ia juga seorang negosiator yang tidak terduga dan suka membuat kejutan melalui media sosial.

Gencatan senjata Lebanon mungkin menghentikan bom untuk sementara waktu, namun unggahan Truth Social Trump telah membuka luka baru dalam hubungan AS-Israel di tengah konflik yang sedang berlangsung.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung