Repelita Miami - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menunjukkan obsesinya terhadap penggunaan nama pribadinya pada aset-aset strategis dengan menyebut Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, sebagai Selat Trump dalam forum bisnis Arab Saudi di Miami, Florida, pada Jumat, 27 Maret 2026 waktu setempat.
Trump awalnya berbicara mengenai negosiasi dengan Iran terkait pembukaan jalur perairan yang terdampak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Teheran, namun di tengah pidatonya ia melontarkan klaim sepihak mengenai nama selat tersebut.
ADVERTISEMENT
Kami sedang bernegosiasi sekarang, dan akan sangat bagus jika kami dapat melakukan sesuatu, tetapi mereka harus membukanya, demikian pernyataan Trump merujuk pada Selat Hormuz yang saat ini masih diblokade oleh Iran.
Sejurus kemudian, ia menambahkan dengan nada kelakar yang disambut tawa hadirin, bahwa mereka harus membuka Selat Trump, maksud saya, Selat Hormuz, sambil tersenyum mendengar reaksi dari para peserta forum.
Trump segera meralat ucapannya, namun menegaskan bahwa itu bukanlah sebuah ketidaksengajaan, dengan mengatakan bahwa berita palsu akan menyebut dia secara tidak sengaja mengatakannya.
Tidak ada kecelakaan dengan saya, tidak terlalu banyak, jika ada itu akan menjadi berita besar, demikian pernyataan Trump yang meyakinkan bahwa penyebutan nama Selat Trump tersebut disengaja.
Aksi ganti nama ini bukan pertama kalinya dilakukan Trump, karena selama masa jabatan keduanya ia tercatat telah mengganti nama beberapa gedung di Washington DC dengan namanya sendiri.
Tahun lalu ia sempat melontarkan candaan serupa untuk John F. Kennedy Center for the Performing Arts, menunjukkan kebiasaannya yang kerap mengasosiasikan fasilitas publik dengan nama pribadinya.
Laporan New York Post juga menyebutkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk mengambil kendali Selat Hormuz secara permanen dan mengganti namanya menjadi Selat Trump atau Selat Amerika.
Hal ini terjadi di tengah krisis energi global, mengingat selat tersebut dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, menjadikannya jalur tersibuk di dunia.
Meskipun Trump mengklaim bahwa Teheran sedang memohon untuk membuat kesepakatan damai, pihak Iran secara terbuka membantah adanya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat terkait pembukaan selat tersebut.
Sebelumnya pada Senin, 23 Maret 2026, Trump bahkan sempat mengusulkan agar selat strategis tersebut dikendalikan bersama, namun proposal tersebut tidak mendapat respons positif dari pemerintah Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok