Repelita Tel Aviv - Gelombang kecaman dari berbagai penjuru dunia mencuat pasca-beredarnya rekaman video yang memperlihatkan tindakan kekerasan terhadap para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang diunggah oleh Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir.
Insiden penyiksaan yang dialami oleh para relawan internasional pasca-penahanan paksa di Pelabuhan Ashdod pada hari Rabu, 20 Mei 2026 tersebut memicu sorotan tajam publik global terhadap rekam jejak radikal sang menteri ultranasionalis.
ADVERTISEMENT
Figur kontroversial bertangan besi ini dikenal luas akibat manuver provokatifnya yang berulang kali menerobos kompleks suci Masjid Al Aqsa demi merealisasikan ambisi penghancuran situs Muslim guna digantikan tempat ibadah Yahudi.
Sepak terjang ekstrem pimpinan faksi Kekuatan Yahudi tersebut sejatinya telah mengakar kuat sejak masa mudanya di mana otoritas militer bahkan melarang dirinya mengikuti wajib militer karena memiliki pandangan sosiopolitik yang kelewat batas.
Pria yang kini menginjak usia lima puluh tahun itu tercatat sudah mengantongi delapan rekam jejak vonis hukum pidana atas keterlibatan aktif dalam organisasi teror serta penyebaran retorika rasisme radikal di tengah masyarakat.
Nama Ben Gvir mulai mencuat di panggung nasional saat dirinya melakukan aksi perusakan terhadap ornamen kendaraan dinas milik Perdana Menteri Yitzhak Rabin pada pertengahan era tahun sembilan puluh satu silam.
“Kami mendatangi mobilnya, dan kami akan menemuinya juga,” katanya, hanya beberapa minggu sebelum Rabin dibunuh oleh ekstremis Yahudi yang menentang upaya perdamaiannya dengan Palestina.
Dua tahun pasca-insiden berdarah tersebut, politikus radikal ini juga memimpin gerakan intimidasi masif berupa ancaman pembunuhan yang memaksa pembatalan konser perdamaian musisi Irlandia Sinead O'Connor di Yerusalem.
Mantan advokat pertahanan bagi kelompok radikal Yahudi ini berhasil meretas jalan ke parlemen pada dua ribu dua puluh satu memanfaatkan pergeseran sentimen pemilih domestik yang kian bergeser ke arah sayap kanan ekstrem.
Pasca-mengamankan kursi kabinet dalam koalisi pemerintahan Benjamin Netanyahu, dirinya menggunakan wewenang kepolisian untuk menekan aksi unjuk rasa oposisi serta memperluas distribusi senjata api kepada warga sipil Yahudi.
“Selama setahun terakhir saya menjalankan misi untuk menyelamatkan Israel,” kata Ben-Gvir kepada wartawan sebelum pemilu tersebut.
"Jutaan warga menunggu pemerintahan sayap kanan yang sebenarnya. Sudah tiba waktunya untuk memberikan pemerintahan itu kepada mereka."
Pengaruh kuat menteri ultranasionalis ini di dalam tubuh kabinet juga kerap dipakai untuk mendesak kelanjutan agresi militer di Jalur Gaza sekaligus menjegal berbagai opsi kesepakatan gencatan senjata dengan pihak perlawanan Palestina.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok