Repelita [Jakarta] - Wafatnya Ibu Negara Ny. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto pada hari Minggu Pon 28 April 1996 pukul 05.10 WIB meninggalkan duka mendalam serta kenangan manis bagi seluruh bangsa Indonesia.
Momen kepergian almarhumah mengingatkan kembali pada suasana perbincangan hangat di kediaman Jl. Cendana, Jakarta, tepat sebulan sebelum suaminya diangkat menjadi pejabat presiden RI.
ADVERTISEMENT
Suasana kediaman keluarga besar tersebut kala itu terasa sangat meriah bak sebuah asrama yang dipenuhi suara anak-anak hingga dentingan piano yang dimainkan dengan satu jari.
Di balik keharmonisan tersebut, tersimpan kenangan masa lalu yang cukup menegangkan, terutama saat peristiwa G-30-S meletus di tengah situasi tugas berat yang diemban sang suami.
Ancaman kesedihan sempat menyelimuti keluarga ketika putra kelima mereka, Hutomo Mandala Putra atau Tommy, mengalami insiden tersiram sop panas dan harus segera dirawat di RSPAD.
Di tengah kecamuk pikiran menghadapi situasi negara yang genting, naluri seorang ibu terus bergejolak menantikan kepastian di tengah simpurnya kabar penculikan para perwira tinggi militer.
Kendati berada dalam bayang-bayang ketegangan tugas kenegaraan yang amat padat, kebersahajaan hidup almarhumah sama sekali tidak pernah luntur hingga akhir hayatnya.
Awak pesawat kepresidenan Pelita Air Service mengenang bahwa Ibu Tien kerap meminta menu makanan kampung yang sederhana seperti kacang rebus, getuk, hingga kelepon dalam setiap lawatannya.
Sikap rendah hati tersebut juga tercermin saat beliau menegur awak kabin yang menata rapi nasi bungkus di atas piring karena ia lebih memilih menyantapnya langsung dari bungkusan.
Perjalanan hidup putri pasangan KPH Soemoharjomo dan KBRAy Hatmanti ini diwarnai pula oleh keikutsertaannya dalam kancah perjuangan kemerdekaan bersama Laskar Putri Surakarta.
Hingga akhir hayatnya, dedikasi, ketulusan, serta kearifan almarhumah dalam mendampingi pemimpin bangsa telah menorehkan teladan abadi bagi lembaran sejarah Republik Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok