Repelita Washington DC - Kegagalan Amerika Serikat dan Israel menghadapi Iran dalam perang terbuka kini mulai terbaca jelas oleh publik dunia.
Alih-alih menang cepat, Washington justru terpaksa mengumumkan gencatan senjata tanpa batas waktu, sebuah keputusan yang dinilai banyak pihak sebagai bukti kekalahan telak.
ADVERTISEMENT
Lantas doktrin perang macam apa yang digunakan Iran sehingga mampu membuat dua negara adidaya kelimpungan?
Jika pada konflik sebelumnya Iran cenderung defensif dan simbolis, kini aturan main telah berubah total sejak awal tahun 2026.
Iran resmi beralih ke strategi ofensif asimetris yang jauh lebih agresif, meninggalkan pendekatan lama yang hanya menjaga daya tangkal.
Pemicu perubahan drastis ini adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026.
Sejak saat itu, Iran tidak lagi bermain aman.
Mereka mulai meluncurkan operasi ofensif terberat dalam sejarah militer Republik Islam.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini memegang kendali penuh atas persenjataan drone dan rudal yang menjadi tulang punggung strategi baru.
Para analis menyebut strategi ini sebagai ketahanan asimetris atau asymmetric resilience.
Iran membangun kota rudal bawah tanah yang lokasinya tersebar luas di berbagai wilayah pegunungan.
Infrastruktur bawah tanah ini membuat kemampuan serangan balasan Iran tetap utuh meskipun pangkalan di permukaan sudah hancur.
Selain itu, mereka menerapkan taktik saturasi regional dengan meluncurkan ratusan drone dan rudal secara serentak.
Taktik ini dirancang khusus untuk membanjiri sistem pertahanan udara musuh hingga mencapai titik jenuh.
Hasilnya, rudal-rudal Iran berhasil menembus pertahanan AS dan Israel yang selama ini dianggap kebal.
Di laut, Iran mengandalkan apa yang disebut sebagai armada nyamuk, yaitu ribuan kapal kecil berkecepatan tinggi.
Kapal-kapal ini mampu melesat hingga 185 kilometer per jam dan dirancang untuk perang gerilya di laut.
Mereka disimpan di pangkalan rahasia dan gua-gua di sepanjang garis pantai agar tidak terdeteksi satelit.
Kondisi Selat Hormuz yang sempit memberikan keuntungan taktis luar biasa bagi Iran untuk mengganggu lalu lintas pelayaran.
Akibatnya, kapal perang AS kini sangat berhati-hati saat melintasi selat tersebut.
Dari sisi diplomasi, Iran juga bermain licik dengan menunda pembicaraan damai di menit-menit terakhir.
Pada 21 April 2026, Teheran secara mendadak membatalkan pertemuan yang sempat direncanakan, memaksa perjalanan Wakil Presiden AS James David Vance ditunda tanpa batas waktu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa blokade pelabuhan yang dilakukan AS adalah tindakan perang.
Sementara itu, ekonomi Amerika mulai jebol.
Senator Patty Murray murka karena anggaran federal membengkak hingga 1,5 triliun dolar akibat agresi ke Iran.
Harga bensin di AS menembus 4 dolar per galon, tertinggi dalam 4 tahun terakhir.
Biaya listrik naik 6,9 persen, lebih dari dua kali lipat tingkat inflasi.
Stok rudal Amerika juga menipis drastis, dengan pasokan Patriot dan THAAD berkurang hingga 50 persen.
Dibutuhkan waktu hingga 5 tahun bagi AS untuk memulihkan stok rudal mereka ke level normal.
Sebaliknya, Iran justru mengklaim memiliki stok amunisi yang melimpah.
Komandan IRGC Brigadir Jenderal Majid Mousava mengatakan pasukannya dengan cepat membangun kembali cadangan rudal dan drone.
"Selama gencatan senjata, kecepatan kami memperbarui platform peluncuran rudal bahkan lebih besar dari sebelum perang," ujarnya.
Militer Iran kini berada dalam kondisi siaga penuh dan siap melancarkan serangan balasan kapan saja.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Komando Iran Khatam Al Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, memastikan kesiapan 100 persen pasukannya.
"Jika terjadi agresi lanjutan, angkatan bersenjata kami akan segera menyerang target yang telah ditentukan dengan kekuatan penuh," tegasnya.
Dengan semua fakta ini, banyak pihak menilai bahwa Donald Trump benar-benar kalah telak dalam perang melawan Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok