Berita, Nasional

Masyarakat Adat Rongkong Tolak 43.690 Hektare Tanah Ulayat Dijadikan Proyek Geotermal Perusahaan Israel

Repelita.net

09 June 2026 20:07 WIB • 868 view

Masyarakat Adat Rongkong Tolak 43.690 Hektare Tanah Ulayat Dijadikan Proyek Geotermal Perusahaan Israel
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sebanyak 14 komunitas adat di wilayah Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi yang akan mencakup lahan seluas 43.690 hektare.

Area yang ditargetkan untuk proyek tersebut merupakan bagian signifikan dari keseluruhan tanah ulayat milik masyarakat adat Rongkong yang total luasnya mencapai 68.650 hektare.

ADVERTISEMENT

Pemangku Adat Uri, M. Parmantis, menegaskan bahwa masyarakat adat tidak pernah dilibatkan dalam proses perencanaan proyek tersebut sejak awal.

Hanya yang diundang pada saat itu, aparat desa.

Setahu saya.

Kami tokoh adat di Rongkong tidak pernah diundang, kata Parmantis, Selasa (9/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa sikap penolakan ini merupakan keputusan kolektif para tokoh adat yang khawatir keberlangsungan identitas masyarakat adat mereka akan terancam.

Saya tidak tahu masyarakat pada umumnya.

Tapi tokoh adat menolak itu, terang Parmantis.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Luwu, Andre Tandi Gau, mengungkapkan keterlibatan perusahaan PT Ormat Geotermal Indonesia yang diklaim terafiliasi dengan pihak Israel.

Ada (afiliasi Israel).

Kami dari AMAN, secara organisasi menolak secara tegas, karena masuk dalam wilayah adat, karena akan merusak situs masyarakat adat, identitas masyarakat adat, paparnya.

Investasi proyek ini diproyeksikan mencapai Rp1,5 triliun dengan target cadangan panas bumi sebesar 42 megawatt ekuivalen.

Penyebaran area proyek tersebut mencakup tujuh desa, termasuk titik-titik krusial di Pangkendekan, Rinding Allo, Komba, dan Desa Penekan.

Pihak AMAN juga menyoroti potensi kerusakan lingkungan serta ancaman hilangnya mata pencaharian warga lokal yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan kopi.

Di sana kan banyak masyarakat adat.

Petani, kebun kopi, sawah, yang akan berdampak secara ekologi, terangnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung