Berita, Internasional

Mantan Direktur CIA David Petraeus mengatakan bahwa pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk timur "tidak lagi layak"

Repelita.net

06 September 2026 17:31 WIB • 503 view

Mantan Direktur CIA David Petraeus mengatakan bahwa pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk timur "tidak lagi layak"
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Mantan Direktur CIA sekaligus pensiunan Jenderal Amerika Serikat, David Petraeus, menilai keberadaan sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk bagian timur menghadapi persoalan serius akibat perubahan ancaman dalam peperangan modern.

Penilaian tersebut muncul ketika kawasan Timur Tengah berada dalam situasi keamanan yang semakin tegang akibat konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, serta kelompok-kelompok milisi regional yang mendapat dukungan Iran.

ADVERTISEMENT

Petraeus menyebut pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut “tidak lagi layak (viabel) dalam bentuknya yang sekarang.”

Pernyataan itu kembali menjadi perhatian setelah akun X @clashreport mengunggah informasi tersebut pada 6 September 2026 pukul 2.51 AM.

Dalam unggahan itu disebutkan, “Mantan Direktur CIA David Petraeus mengatakan bahwa pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk timur "tidak lagi layak."”

Persoalan utama yang disoroti berkaitan dengan perubahan pola serangan udara, terutama meningkatnya penggunaan drone berbiaya rendah yang dapat dikerahkan dalam jumlah besar.

Dalam kondisi tersebut, sistem pertahanan udara konvensional Amerika Serikat menghadapi persoalan biaya karena harus menggunakan rudal pencegat dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan sasaran yang hendak dihancurkan.

Salah satu contoh yang disoroti adalah sistem Patriot, yang setiap rudal pencegatnya disebut dapat bernilai sekitar 4 juta hingga 5 juta dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah drone produksi Iran diperkirakan hanya memiliki harga sekitar 50 ribu dolar AS per unit.

Kesenjangan biaya tersebut menciptakan persoalan strategis apabila serangan dilakukan secara terus-menerus dengan jumlah drone yang besar.

Selain persoalan biaya, penggunaan amunisi pertahanan dalam jumlah tinggi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kemampuan pertahanan pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Pertempuran dengan intensitas tinggi disebut telah menghabiskan sekitar setengah persediaan rudal pencegat pasukan AS di wilayah tersebut.

Situasi itu menjadi semakin penting karena strategi serangan menggunakan drone secara massal dapat memaksa sistem pertahanan mengerahkan banyak interseptor dalam waktu singkat.

Pola serangan semacam itu dikenal sebagai saturation attack, yakni upaya membanjiri sistem pertahanan dengan jumlah sasaran yang besar untuk menguji atau menembus kapasitas pencegat.

Petraeus juga mengaitkan perkembangan tersebut dengan pengalaman perang di Ukraina.

Dalam konflik tersebut, penggunaan drone murah dalam jumlah sangat besar menunjukkan bahwa teknologi berbiaya rendah dapat memberikan tekanan serius terhadap sistem persenjataan yang jauh lebih mahal.

Karena itu, pendekatan pertahanan Amerika Serikat dinilai perlu menyesuaikan diri dengan perubahan karakter peperangan tersebut.

Salah satu konsekuensi yang mungkin muncul adalah perubahan terhadap desain maupun fungsi pangkalan militer besar Amerika Serikat yang berada di kawasan Teluk.

Personel dan fasilitas tertentu juga berpotensi ditata kembali apabila pangkalan-pangkalan tersebut dinilai terlalu mudah menjadi sasaran serangan drone.

Selain perubahan penempatan, Amerika Serikat didorong mempercepat penggunaan sistem pertahanan yang lebih murah untuk menghadapi drone.

Roket berpemandu laser APKWS yang diperkirakan bernilai sekitar 25 ribu dolar AS menjadi salah satu contoh teknologi yang dinilai dapat digunakan untuk menekan ketimpangan biaya antara senjata penyerang dan sistem pencegat.

Pengembangan drone pencegat juga menjadi pilihan lain karena perangkat tersebut dapat dirancang khusus untuk menghadapi kendaraan udara tanpa awak milik lawan.

Kerentanan pangkalan AS juga berpotensi memengaruhi hubungan Washington dengan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk.

Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait termasuk negara yang selama ini memiliki hubungan keamanan erat dengan Amerika Serikat serta menjadi bagian penting dari jaringan pertahanan Washington di kawasan.

Jika pangkalan militer AS semakin mudah mendapat ancaman serangan murah dalam jumlah besar, efektivitas jaminan keamanan Amerika Serikat dapat kembali menjadi bahan pertimbangan strategis bagi negara-negara tersebut.

Komentar terhadap pernyataan Petraeus pun bermunculan dalam unggahan @clashreport.

Salah satu pengguna, @IrTrueNarative, menulis, “Anda menghabiskan $7 Triliun hanya agar mantan direktur CIA Anda mengakui bahwa pangkalan Anda tidak lagi layak. Teluk Persia bukan danau Anda; kemas barang bawaan Anda.”

Pengguna lain, @DoeJane38839, mempertanyakan narasi kemenangan dalam konflik tersebut dengan menulis, “Di mana para idiot yang bilang perang ini sepadan dan Trump sedang menang?”

Sementara itu, @DBrumus memberikan kritik lebih luas terhadap kebijakan pertahanan Amerika Serikat dengan mengatakan, “Aneh. Sepertinya AS terus-menerus melakukan hal-hal bodoh untuk membuat industri perang dan Zionis senang. Kamu hampir merasa bahwa strategi "pertahanan" kita lebih tentang membuat elit semakin kaya dan melayani Israel daripada melindungi kepentingan dan militer kita.”

Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi serangan, tetapi juga menyangkut efisiensi biaya, ketersediaan amunisi, serta perubahan strategi perang yang semakin mengandalkan drone berharga murah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung