Repelita Jakarta - Gelombang penolakan terhadap sejumlah kebijakan strategis pemerintah pusat kembali memicu meletupnya aksi unjuk rasa di daerah.
ADVERTISEMENT
Ratusan elemen mahasiswa dilaporkan kembali memadati sejumlah ruas jalan protokol untuk menyuarakan aspirasi perlawanan terhadap jalannya roda pemerintahan.
Massa aksi secara konsisten melayangkan kritik tajam terkait tata kelola ruang hidup rakyat serta pemenuhan hak-hak dasar konstitusional.
Gerakan demonstrasi yang memadati kawasan jalan utama tersebut berlangsung di area Flyover, Jalan Urip Sumoharjo-AP Pettarani, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, pada Selasa (27/10/2026).
Aksi penolakan terbuka yang dimulai sejak siang hari sekitar pukul 15.05 Wita ini digulirkan di bawah bendera Aliansi Mahasiswa Berlawan.
Kelompok massa ini merupakan gabungan civitas akademika dari empat kampus besar, yakni UNHAS, UMI, UNM, dan UINAM dengan estimasi kekuatan mencapai 100 orang.
Sepanjang jalannya aksi, para demonstran melakukan orasi secara bergantian menggunakan pengeras suara jenis megafon guna membakar semangat perlawanan.
Massa juga membentangkan alat peraga berupa spanduk berukuran 1x3 meter serta menempelkan lembaran pamflet kecaman di atas aspal jalanan.
Rangkaian narasi protes yang disuarakan berfokus pada penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga tuntutan penegakan etika birokrasi pemerintahan.
Dalam orasi terbuka tersebut, perwakilan aliansi menyuarakan sembilan poin tuntutan utama yang dinilai krusial bagi hajat hidup masyarakat luas.
"Kami menuntut hentikan represif kepada jurnalis, tegakkan HAM, kembalikan militer ke barak! Hentikan MBG dan Kopdes, prioritaskan pendidikan dan kesehatan!" seru orator dengan lantang di hadapan barisan massa.
Selain penolakan sektor pangan gratis, demonstran mendesak otoritas terkait untuk segera menghentikan aktivitas perampasan ruang hidup masyarakat adat.
Pemerintah dituntut mewujudkan agenda reforma agraria sejati serta menstabilkan fluktuasi harga kebutuhan pokok demi mengatasi kelangkaan energi.
Pihak perwakilan mahasiswa juga menuntut adanya kepastian penetapan status kedaruratan nasional terhadap serangkaian musibah ekologis di daerah.
"Tetapkan bencana di Sumatra, Kalimantan, dan NTT sebagai bencana nasional! Hentikan pembungkaman terhadap demonstrasi dan berikan perlindungan!" tegas orator dalam penutupan orasinya.
Berdasarkan laporan pemantauan di lokasi perlintasan maritim, dinamika orasi berkala di bawah jembatan layang tersebut dilaporkan berjalan cukup kondusif.
Hingga sore hari sekitar pukul 16.00 Wita, barisan massa masih terus menyuarakan aspirasi sengketa publik tersebut dengan menjaga ketertiban umum.
Memasuki pukul 16.26 Wita, aktivitas penyampaian pendapat bertransformasi menjadi aksi kultural melalui senandung bersama lagu Aliansi Mahasiswa.
Menjelang sore berakhir sekitar pukul 17.01 Wita, rangkaian unjuk rasa ditutup dengan pembacaan naskah Sumpah Mahasiswa sebagai refleksi perlawanan menyambut momentum historis 28 Oktober(*)
Editor: 91224 R-ID Elok