Repelita [Jakarta] - Pengakuan Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengenai program perencanaan Makan Bergizi Gratis yang terkesan terburu-buru menuai respons kritis dari berbagai kalangan.
Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Gus Hilmi Firdausi, secara tegas menolak narasi bahwa permasalahan program tersebut merupakan kesalahan kolektif, mengingat kritik telah dilayangkan sejak awal.
ADVERTISEMENT
Ia menekankan bahwa peringatan terhadap efektivitas dan teknis pelaksanaan program unggulan pemerintah itu sudah disuarakan sejak masa sosialisasi awal.
“Perasaan sudah kami ingatkan sejak awal program ini digulirkan deh pak,” ujar Gus Hilmi, Jumat (26/6/2026).
Gus Hilmi mengungkapkan kekecewaannya karena masukan konstruktif yang diberikan justru ditanggapi dengan tanggapan yang cenderung mengabaikan esensi kritik tersebut.
“Sekarangpun kami terus pantau dan beri masukan, tapi malah ditanggapi nyenyenyenye,” tandasnya.
Sebelumnya, Luhut mengakui bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis mengalami kendala signifikan akibat kurang matangnya kajian sebelum kebijakan dilaksanakan secara masif.
Menurut Luhut, ketidaksesuaian data di lapangan, khususnya di wilayah 3T, menyebabkan anggaran terserap meski realisasinya jauh dari harapan.
“Jadi kita habis waktu berdiskusi dengan sesama kita, yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau dari awal perencanaannya, studinya, dilakukan dengan tepat,” jelas Luhut.
Saat ini, Dewan Ekonomi Nasional tengah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk memperbaiki prosedur dan sistem distribusi di ratusan titik yang telah dipetakan.
Luhut meminta masyarakat untuk memberikan waktu setidaknya satu tahun kepada pemerintah untuk mengingat kekurangan yang ada dan memastikan program berjalan sebagaimana mestinya.
“Memang kemarin kita mungkin kurang karena langsung bikin gede, tanpa melakukan piloting,” tutupnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok