Berita, Nasional

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Plastik di Pasar Ikut Melambung

Repelita.net

06 April 2026 21:02 WIB • 1,007 view

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Plastik di Pasar Ikut Melambung
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Konflik Timur Tengah yang tengah memanas ternyata tidak hanya berdampak pada kenaikan harga BBM, tetapi juga ikut mendongkrak harga plastik di pasar-pasar tradisional Indonesia.

Sebagian besar kemasan plastik yang kita gunakan sehari-hari, mulai dari botol minum hingga bungkus gorengan, berasal dari bahan baku bernama naphta yang merupakan turunan dari minyak dan gas bumi.

ADVERTISEMENT

Naphta menjadi jantung produksi plastik dan polimer, sehingga jika pasokannya terganggu maka rantai produksi manufaktur global ikut terancam lumpuh.

Indonesia menghadapi tantangan besar karena sekitar 60 persen kebutuhan naphta nasional dipasok dari Timur Tengah melalui jalur Selat Hormuz.

Jika distribusi di jalur strategis tersebut terganggu akibat konflik, pasokan bahan baku domestik bisa langsung tersendat dan memicu kenaikan harga.

Gangguan rantai pasok dari produsen utama seperti China dan Korea Selatan pun memaksa Indonesia mencari alternatif impor hingga ke India, Amerika Serikat, bahkan Afrika.

Konsekuensinya, biaya logistik menjadi lebih tinggi dan rantai distribusi semakin kompleks, yang pada akhirnya membebani harga jual produk plastik di dalam negeri.

Di pasar tradisional Jakarta, dampak ini sudah mulai terlihat nyata dengan naiknya harga kantong plastik berbagai ukuran.

Harga kantong plastik ukuran besar naik dari Rp25.000 menjadi Rp30.000 per pak, sementara ukuran kecil naik dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per pak.

Lia, seorang pedagang warung Madura di Jakarta Selatan, mengaku merasakan langsung beban kenaikan harga kantong plastik tersebut.

“Jadi ya, saya kadang bersyukur kalau ada orang beli yang nggak minta kantong plastik. Stoknya jadi lebih lama habisnya,” ujarnya blak-blakan.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansah menilai pemerintah perlu mulai serius mempertimbangkan pelarangan kantong plastik secara menyeluruh sebagai solusi jangka panjang.

“Kayak di Jakarta kan ada Pergub ya, untuk larangan penggunaan kantong plastik. Nah, itu dioptimalkan aja. Jadi, kantong plastik sekarang sudah, ditiadakan aja,” katanya.

Penguatan industri daur ulang melalui program bank sampah juga dinilai bisa menjadi opsi, meskipun belum menyelesaikan akar permasalahan.

Solusi paling efektif menurut Trubus adalah mengurangi ketergantungan secara langsung dengan beralih ke kantong kertas atau membawa tas belanja sendiri dari rumah.

“Jadi, pedagang nggak perlu lagi menyediakan kantong plastik,” tambahnya.

Pada akhirnya, mengurangi penggunaan plastik bukan lagi sekadar gaya hidup ramah lingkungan, melainkan langkah adaptif di tengah ketidakpastian global.

“Pemerintah harus melakukan kampanye publik untuk tidak memanfaatkan plastik lagi. Di tingkat nasional, pemerintah juga harus membuat peraturan tentang larangan penggunaan plastik,” tegas Trubus.

“Biar pedagang juga nggak merasa tertekan untuk menaikkan harga, karena biasanya pedagang terus menaikkan harga dengan adanya ini. Kan jadi merugikan pedagang sendiri karena pelanggannya jadi pada kabur,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung