Repelita Jakarta - Kian mendidihnya konflik di perbatasan Lebanon selatan membuat korban jiwa terus berjatuhan, dengan puluhan tentara Israel dilaporkan babak belur dan satu orang tewas dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Sebanyak 37 tentara Israel dilaporkan mengalami luka-luka dan satu orang lainnya tewas di Lebanon selatan di tengah meningkatnya intensitas serangan balasan yang dilancarkan oleh Hizbullah.
ADVERTISEMENT
Seperti dilaporkan oleh sumber-sumber media Ibrani, jumlah korban luka-luka ini menjadikan hari tersebut sebagai salah satu periode paling berdarah bagi pasukan Israel.
Sejak dimulainya kembali operasi darat di Lebanon pada awal Maret lalu, belum pernah terjadi lonjakan korban yang begitu tinggi dalam waktu singkat.
Angka ini bahkan belum termasuk satu tentara cadangan yang tewas dalam ledakan ranjau darat milik Hizbullah di daerah Kafr Kila.
Insiden mematikan ini terjadi saat front utara Israel, yaitu perbatasan dengan Lebanon, semakin sulit dikendalikan oleh militer Zionis.
Berbeda dengan front Gaza yang didominasi oleh serangan udara jarak jauh, pertempuran di Lebanon selatan kini berlangsung secara jarak dekat.
Pertempuran house to house yang penuh dengan jebakan dan ranjau menjadi ciri khas dari konflik di front utara yang kian mendidih ini.
Sebelum laporan tentang 37 korban luka ini mencuat ke publik, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) lebih dulu mengumumkan kematian seorang tentara cadangan pada Ahad, 19 April 2026.
Ia adalah Sersan Kelas Satu (Cadangan) Lidor Porat, 31 tahun, seorang warga dari kota Ashdod yang bertugas di Batalyon 7106, Brigade Regional 769.
Porat tewas dalam ledakan besar yang terjadi saat unitnya sedang beroperasi di daerah Kafr Kila, Lebanon selatan.
“Dalam insiden di mana Sersan Kelas Satu (Cadangan) Lidor Porat tewas, satu tentara lainnya mengalami luka berat, empat tentara luka sedang, dan empat tentara lainnya luka ringan,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh IDF.
Army Radio Israel melaporkan bahwa penyebab ledakan adalah sebuah kendaraan lapis baja D-9 military bulldozer yang secara tidak sengaja menabrak bahan peledak milik Hizbullah.
Insiden ini memicu kekhawatiran akan adanya pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang selama ini berjalan rapuh.
Di sisi lain, kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, dengan lantang mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan yang terjadi secara simultan.
Menurut pernyataan yang dirilis Kamis (9/4) lalu, Hizbullah melakukan setidaknya empat serangan besar dalam waktu yang sangat singkat.
Kelompok itu mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke pemukiman Manara dan Kiryat Shmona yang berada di wilayah Israel utara.
Tidak hanya itu, mereka juga mengklaim berhasil menghantam kendaraan militer Israel dengan rudal terpandu di kota Taybeh, Lebanon selatan.
Bahkan, Hizbullah mengaku menggunakan pesawat nirawak atau drone untuk menyerang pasukan Israel di area yang sama.
Mereka menegaskan bahwa semua serangan ini adalah aksi balasan yang sah atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Israel.
Perang yang dipicu oleh serangan lintas batas Hizbullah pada 2 Maret lalu ini telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang sangat besar di Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon merilis data terbaru bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 1.953 orang, dengan 6.303 lainnya luka-luka.
Angka ini melonjak drastis hanya dalam hitungan hari sejak konflik memasuki fase baru yang lebih panas.
Sumber lain menyebutkan angka sementara mencapai 2.294 tewas dan 7.544 luka-luka, dengan sekitar 100 petugas penyelamat dan tenaga kesehatan turut menjadi korban.
Kementerian Kesehatan Lebanon memperingatkan bahwa angka ini masih bersifat sementara dan banyak jenazah yang masih tertimbun reruntuhan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok