Repelita Jakarta - Pernyataan mengenai kenaikan desil masyarakat memicu perdebatan di media sosial setelah video yang berkaitan dengan penjelasan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mendapat sorotan warganet.
Pada 9 September 2026 pukul 16.08 WIB, akun X @regar_op0sisi mengunggah video yang disertai kritik terhadap pernyataan Kepala BPS mengenai kenaikan desil.
ADVERTISEMENT
Dalam unggahannya, Edy Bayo Regar menuliskan, “Omongan taik dari kepala BPS. Kenaikan desil adalah prestasi masyarakat. Prestasi ndasmu.”
Unggahan tersebut juga menandai akun @bps_statistics dan menyertakan sebuah video berdurasi sekitar 1 menit 51 detik yang menjadi bagian dari perbincangan di kolom komentar.
Sejumlah pengguna X kemudian memberikan tanggapan terhadap unggahan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda-beda, termasuk mempertanyakan cara pemerintah menjelaskan perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui indikator desil.
Akun @d_ddys memberikan komentar singkat terhadap penjelasan yang menjadi bahan perbincangan tersebut dengan menulis, “penjelasannya gibran banget.”
Edy Bayo Regar kemudian kembali merespons percakapan tersebut melalui unggahan lain dengan pernyataan, “Yes gak punya otak”.
Komentar lain datang dari akun @Kosimatkasah yang menyoroti persoalan asupan nutrisi dan mengaitkannya dengan program makan bergizi gratis.
Akun tersebut menulis, “Ngomong begini gak malu, asupan nutrisi otak dia nih, mirip menu mbg mengandung racun.”
Sementara itu, Edy Bayo Regar kembali menyampaikan kritik melalui unggahan berikutnya dengan kalimat, “Hilang nalar dan nurani”.
Perdebatan juga berkembang ke persoalan penghasilan aparatur pemerintah. Akun @trxxciaa menuliskan, “Besok gaji pemerintah suruh turun jadi 5 juta per bulan ajah. Tanpa ada ini dan itu. Tanpa ada tunjangan dll”.
Edy Bayo Regar kemudian memberikan tanggapan singkat terhadap komentar tersebut dengan menulis, “Sepakat”.
Di sisi lain, akun @wiro45328 mengaitkan pembahasan mengenai data BPS dengan hak warga negara untuk memperoleh bantuan pemerintah serta sejumlah ketentuan mengenai penanganan fakir miskin dan kesejahteraan sosial.
Akun tersebut menulis, “karena Output data yg dihasilkan BPS terkait hak warna negara khususnya yg tidak mampu untuk dapat Bantuan Pemerintah sesuai UU 13 2011 Penangana Fakir miskin ,UU 11 2009 Kesejahteraan sosial ...agar akurat sebagai lembaga negara di berianggaran , diberi kewenangan”.
Tidak semua pengguna menyampaikan kritik terhadap pernyataan mengenai kenaikan desil. Akun @FebNew483 justru memberikan penjelasan bahwa desil berkaitan dengan pemeringkatan tingkat kesejahteraan masyarakat.
“Desil itu kan pemeringkatan tingkat kesejahteraan, cuy. Kalau desilnya naik, artinya kemampuan ekonomi warganya bertambah. Namanya taraf hidup membaik ya itu indikator positif, bukan malah disewot-in,” tulis akun tersebut.
Perbedaan tanggapan itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai desil tidak hanya berkaitan dengan istilah statistik, tetapi juga menyentuh persoalan bagaimana data kesejahteraan masyarakat dipahami dan digunakan sebagai dasar kebijakan pemerintah.
Kenaikan atau penurunan desil menjadi perhatian karena data tersebut dapat berkaitan dengan pemetaan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta penentuan kelompok yang menjadi sasaran berbagai program pemerintah.
Perdebatan di media sosial pun memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara pengguna yang menilai kenaikan desil sebagai indikator membaiknya kondisi ekonomi dan pihak yang mempertanyakan makna capaian tersebut bagi masyarakat secara nyata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Omongan taik dari kepala BPS.
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) September 9, 2026
Kenaikan desil adalah prestasi masyarakat.
Prestasi ndasmu.@bps_statistics pic.twitter.com/212sTx5XDe