Repelita Jakarta - Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menegaskan bahwa institusinya tidak akan memberikan toleransi terhadap dugaan pelanggaran prosedur pengamanan.
Pemeriksaan intensif terhadap seluruh personel yang bertugas di lokasi kejadian telah dijalankan langsung oleh Bidang Profesi dan Pengamanan.
ADVERTISEMENT
Langkah investigasi internal ini diambil menyusul insiden bentrokan antarkelompok yang memakan korban jiwa di wilayah rawan tersebut.
Dalam keterangannya sebelumnya, Arya sempat menyebutkan bahwa hanya ada lima orang personelnya yang harus menghadapi sekitar seratus orang massa beringas.
Kita akan tindak.
Ini tadi saya sampaikan ini ada pak Kabid propam, pak Kabid propam juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggota-anggota yang tadi diduga melakukan tindak tersebut, ujar Arya pada hari Minggu tanggal 27 September tahun 2026.
Sehingga nanti dari hasil tersebut akan nanti kita umumkan apakah menyalahi SOP atau tidak.
Namanya masih penyelidikan harap bersabar, imbuh perwira menengah tersebut menegaskan proses yang sedang berjalan.
Pihaknya turut mengimbau masyarakat luas agar senantiasa menahan diri serta tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana.
Kami juga imbau kepada seluruh masyarakat agar menahan diri, tidak terprovokasi dengan pihak-pihak manapun karena keluarga korban pun sudah memberikan kepercayaan kepada pihak kepolisian dan kami menghargai kepercayaan itu untuk melakukan tidakan dari kejadian itu, tukasnya.
Guna meredam potensi ketegangan susulan, aparat kepolisian bersama elemen warga setempat langsung memperketat penjagaan di sekitar lokasi kejadian.
Pengamanan terpadu tersebut melibatkan tokoh masyarakat setempat demi menjamin situasi keamanan tetap kondusif termasuk di rumah duka.
Iya ada, tapi di sini juga ada pak RW sudah menjamin situasi di lokasi, termasuk di rumah duka, tandas Arya.
Aparat gabungan juga terus mengantisipasi berbagai kemungkinan pergerakan lanjutan dari kelompok-kelompok yang sebelumnya terlibat dalam aksi tawuran.
Yang diantisipasi adalah mungkin pihak yang tawuran itu, jadi ini kita sama-sama mengantisipasi dari keluarga (korban) juga kita sama-sama mengantisipasi, kuncinya.
Sebelumnya, tabir gelap di balik kematian pemuda berinisial Rafli Ramadhani yang berusia 19 tahun mulai mendapat titik terang dari hasil medis.
Tim kedokteran forensik menemukan adanya indikasi luka mencurigakan yang mengarah pada bekas hantaman proyektil senjata api pada tubuh korban.
Temuan krusial tersebut disampaikan langsung dalam proses pemeriksaan medis menyeluruh terhadap jenazah oleh tim ahli.
Hasil awal dari pemeriksaan fisik tersebut kemudian diserahkan kepada penyidik kepolisian untuk dilanjutkan dengan uji balistik mendalam.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr. Muhammad Haris memaparkan bahwa pihaknya mendapati luka tembus pada bagian vital tubuh korban.
Dari pemeriksaan selanjutnya, terdapat luka yang menyerupai luka tembak di daerah punggung kiri, kemudian keluar di lengan kanan, ujar Haris pada hari Minggu tanggal 27 September tahun 2026.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa diameter luka tersebut tergolong kecil serta memiliki karakteristik fisik yang konsisten dengan lintasan benda berkecepatan tinggi.
Kendati temuan awal mengarah pada indikasi luka tembak, pihak kedokteran forensik tetap menyerahkan pembuktian saintifik sepenuhnya kepada tim penyidik lapangan.
Hasil pemeriksaan ini kami serahkan kepada penyidik untuk menentukan dan membuktikan terkait proyektil peluru pada tubuh korban, tandasnya menutup penjelasan. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok