Berita, Timur Tengah

Kapal Induk AS Rp211 Triliun Jadi Bulan-bulanan Rudal Iran, Pengamat: Alutsista Amerika Mulai Tak Relevan di Perang Modern

Repelita.net

30 March 2026 23:08 WIB • 1,336 view

Kapal Induk AS Rp211 Triliun Jadi Bulan-bulanan Rudal Iran, Pengamat: Alutsista Amerika Mulai Tak Relevan di Perang Modern
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat hubungan internasional Piazaro Ghozali menilai bahwa perang di Timur Tengah antara Amerika-Israel melawan Iran menjadi pelajaran berharga bahwa alutsista Amerika Serikat mulai tidak relevan dengan perkembangan zaman modern.

Menurut Ghozali, kapal induk atau sistem pertahanan sekelas Iron Dome yang sangat modern ternyata bisa ditembus dan menjadi bulan-bulanan alutsista murah namun efektif yang digunakan oleh Iran.

ADVERTISEMENT

“Iran berhasil menembak jet siluman ternyar F-35. Ini membuktikan ada teknologi alutsista yang efektif dan murah,” kata Ghozali dalam pernyataannya pada Senin (30/3/2026).

Ia menegaskan bahwa kapal induk Amerika Serikat yang nilainya mencapai Rp211 triliun tidak lagi relevan dalam perang masa depan karena rentan diserang oleh rudal balistik.

Bukti teranyar dari kerentanan tersebut adalah dua kapal induk AS, USS Gerald R. Ford (CVN-78) dan USS Abraham Lincoln, yang menjadi korban rudal di Timur Tengah dan terpaksa meninggalkan arena perang.

“Dengan pengawalan kapal perusak berpeluru kendali, kapal selam membuat gugusan tempur ini justru menjadi kelemahan,” terang Ghozali menjelaskan kelemahan struktural dari armada kapal induk super yang selama ini menjadi andalan proyeksi kekuatan global Amerika Serikat.

Kapal induk bertenaga nuklir seperti Carl Vinson dengan berat hampir 90.000 ton dan panjang lebih dari 300 meter selama ini dianggap sebagai simbol keunggulan militer AS yang tak tertandingi.

Namun pengalaman di medan perang Timur Tengah menunjukkan bahwa kemajuan pesat dalam kemampuan militer lawan, khususnya Iran, telah mengubah dinamika pertempuran modern.

Pengamatan Ghozali memperkuat fakta bahwa teknologi alutsista murah namun efektif mampu mengimbangi bahkan mengalahkan sistem pertahanan tercanggih sekalipun.

Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 ini menjadi ujian nyata bagi doktrin militer Amerika yang selama ini mengandalkan superioritas teknologi sebagai faktor penentu kemenangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung