Berita, Nasional

Jusuf Kalla Murka, Laode Ida Sebut Ada Serangan ke Harga Diri Tokoh Bugis

Repelita.net

23 April 2026 21:54 WIB • 1,003 view

Jusuf Kalla Murka, Laode Ida Sebut Ada Serangan ke Harga Diri Tokoh Bugis
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Di tengah riuh media sosial yang tak lagi mengenal jeda, nama Jusuf Kalla mendadak menjadi pusat pusaran perdebatan nasional.

Sosok yang selama ini dikenal tenang, santun, dan lebih sering meredam konflik ketimbang menyalakannya kini justru tampil dengan nada yang tak biasa.

ADVERTISEMENT

Ia berbicara dengan tegas, bahkan marah, karena merasa martabatnya sebagai tokoh bangsa telah disentuh dan ditarik ke ruang publik dengan tuduhan fitnah.

Dua relawan yang diduga dikaitkan dengan lingkaran Joko Widodo dilaporkan ke polisi atas dugaan penyebaran konten yang menyerang kehormatan JK.

Namun peristiwa ini tidak berhenti sebagai perkara hukum semata tetapi menjelma menjadi gejala krisis etika di ruang publik digital Indonesia.

Di era viralitas, tuduhan dapat dilempar tanpa beban sementara kebenaran sering kali tertinggal jauh di belakang kecepatan penyebaran informasi.

Dalam perbincangan di Podcast Madilog Forum Keadilan, Laode Ida menggambarkan kemarahan JK sebagai sesuatu yang langka dan hampir tak pernah terlihat sebelumnya.

Bagi Laode, ini bukan sekadar emosi personal melainkan reaksi mendalam atas serangan terhadap "siri" rasa harga diri dan kehormatan dalam tradisi Bugis-Makassar.

Ketika siri dilukai, diam bukan lagi pilihan karena kehormatan adalah segalanya bagi seorang Bugis yang memiliki prinsip hidup yang kuat.

Namun persoalan ini tidak berdiri sendiri karena ia terhubung dengan dinamika politik nasional yang lebih besar dan kompleks.

Ada bayang-bayang kekuasaan yang oleh sebagian pihak dianggap melindungi para provokator di balik ramainya konten penyerangan terhadap JK.

Tuduhan pun melebar ke mana-mana apakah ada aktor di belakang layar yang mengatur atau ini sekadar ulah individu yang tidak bertanggung jawab.

Apakah ini bagian dari orkestrasi sistematis untuk menjatuhkan tokoh sekelas Jusuf Kalla yang memiliki pengaruh besar di kawasan timur Indonesia.

Di titik inilah sorotan tajam mulai mengarah kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memiliki peran krusial dalam meredakan situasi nasional.

Sikap diam Prabowo bisa ditafsirkan sebagai kehati-hatian namun juga berisiko dibaca oleh publik sebagai bentuk pembiaran terhadap provokasi.

Dalam logika kekuasaan, ketidakhadiran keputusan sering kali lebih bising dan berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi itu sendiri.

Laode Ida bahkan mengingatkan bahwa jika situasi ini tidak segera dikelola dengan baik ia berpotensi memantik reaksi yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

JK bukan sekadar individu biasa karena ia adalah simbol tokoh bangsa dengan jejaring sosial dan kultural yang sangat besar di berbagai daerah.

Namun menariknya justru JK sendiri yang memilih untuk menahan eskalasi konflik dengan tidak menyerukan massa atau melakukan mobilisasi kekuatan.

Ia memilih jalur hukum yang tampak sederhana tetapi dalam konteks politik Indonesia justru menjadi ujian berat bagi sistem peradilan.

Di ruang yang sama, bayang-bayang Megawati Soekarnoputri ikut disebut oleh para pengamat politik sebagai figur yang diharapkan ikut meredakan.

Harapan disematkan agar para elite bangsa tidak hanya menjadi penonton pasif tetapi turun tangan meredakan konflik yang mulai melebar ke mana-mana.

Sebab jika konflik ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, ia tidak lagi soal satu nama tetapi tentang bagaimana bangsa memperlakukan kehormatan.

Ini juga tentang bagaimana bangsa memperlakukan kebenaran serta bagaimana menghormati perbedaan pendapat di ruang publik yang semakin gaduh.

Di ujungnya, peristiwa ini seperti cermin retak yang memantulkan wajah demokrasi Indonesia yang sangat gaduh tanpa batas jelas.

Informasi, opini, dan provokasi bercampur aduk menjadi satu sehingga sulit bagi publik biasa untuk membedakan mana fakta dan mana fitnah.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kasus ini tetapi sejauh mana negara hadir memastikan kebenaran.

Dan mungkin di tengah semua riuh ini satu hal menjadi terang ketika tokoh setenang Jusuf Kalla memilih bersuara keras ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung