Berita, Nasional

Jelang aksi 27 Agustus 2026, Habib Rizieq soroti pagar DPR dan minta polisi tak represif

Repelita.net

26 August 2026 00:18 WIB • 737 view

Jelang aksi 27 Agustus 2026, Habib Rizieq soroti pagar DPR dan minta polisi tak represif
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Habib Rizieq Syihab menyampaikan sejumlah pesan terkait rencana aksi masyarakat pada 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR RI.

Pesan tersebut disampaikan dalam ceramah di Petamburan pada 24 Agustus 2026 dengan menyoroti kondisi pagar di sejumlah lokasi serta sikap aparat menghadapi peserta aksi.

ADVERTISEMENT

Habib Rizieq menilai keberadaan pagar tinggi berpotensi menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat apabila dibangun dengan kesan berlebihan.

Ia kemudian menceritakan adanya tempat usaha yang sebelumnya memasang pagar tinggi dan disebut mendapat teguran agar tidak membuat masyarakat resah.

“Hei, itu para konglomerat yang punya pasar jangan bikin gaduh, jangan takut-nakutin rakyat ya. Bikin tembok tinggi-tinggi begitu rakyat jadi ketakutan ada kerusuhan,” ujar Habib Rizieq Syihab menirukan teguran tersebut.

Menurut dia, kondisi pagar di Gedung DPR RI justru menjadi perhatian karena ukurannya dinilai lebih tinggi dibandingkan pagar di tempat yang sebelumnya ia singgung.

“Kami heran, Pak, kok DPR pagarnya lebih tinggi dari kami, Pak? Kacau tidak DPR, Saudara pagarnya sampai 6 m lebih,” tegasnya.

Habib Rizieq kemudian menyampaikan peribahasa untuk menggambarkan apa yang menurutnya menjadi contoh dari sikap tersebut.

“Guru kencing berdiri, murid kencingin guru,” ucapnya.

Selain persoalan pagar, ia juga mengarahkan pesannya kepada kepolisian yang akan mengamankan rencana aksi 27 Agustus.

Habib Rizieq meminta aparat tidak menghalangi masyarakat menyampaikan aspirasi serta tidak menggunakan tindakan represif.

“Polisi jangan lebai. Jangan larang demo. Jangan represif kepada pendemo, Saudara. Jangan, jangan lebai,” tegas Habib Rizieq Syihab.

Ia juga menyoroti munculnya pemberitaan maupun peringatan mengenai potensi kericuhan menjelang aksi tersebut.

“Ini sekarang berita awas 27 Agustus akan ada kegaduhan, akan ada keributan. Hati-hati kadang-kadang, maaf oknum aparat yang nakut-nakutin saudara,” ujarnya.

Habib Rizieq mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan pengalaman aksi 411 dan 212 yang menurutnya juga pernah didahului isu mengenai kemungkinan terjadinya kerusuhan.

Dalam ceramahnya, ia menyebut adanya benturan yang menurut pernyataannya justru melibatkan aparat.

“Yang mulai bentrok polisi kok bukan kita,” ucapnya.

Ia kembali meminta agar masyarakat tidak dibuat takut dalam menghadapi rencana aksi pada 27 Agustus.

“Jangan nakut-nakuti rakyat, jangan. Enggak boleh. Itu lebai, Saudara,” tegasnya.

Menurut Habib Rizieq, aparat tetap memiliki tanggung jawab menjaga keamanan, tetapi pelaksanaannya tidak seharusnya dilakukan secara berlebihan atau represif.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung hubungan kepolisian dengan kepentingan kelompok yang disebutnya sebagai oligarki.

“Jangan ada polisi yang jadi budak oligarki. Setuju tidak?” tanyanya kepada hadirin.

Ia kemudian memberikan contoh mengenai persoalan pertanahan yang melibatkan masyarakat.

Habib Rizieq meminta aparat tidak digunakan untuk menekan atau memproses hukum warga ketika terdapat kepentingan pihak tertentu terhadap tanah masyarakat.

“Kalau disuruh oligarki, Saudara, ada rakyat yang tanahnya mau dirampas. Kadang-kadang rakyat dikriminalisasi. Enggak boleh, Saudara,” jelasnya.

Habib Rizieq menekankan bahwa kepolisian seharusnya menjalankan tugas untuk menjaga keamanan sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Ia menilai sikap aparat yang dianggap berpihak kepada kepentingan tertentu dapat memperbesar ketidakpercayaan publik dan memicu kemarahan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan menjelang rencana aksi 27 Agustus 2026 dengan penekanan agar aparat tidak berlebihan dalam mengamankan penyampaian aspirasi warga.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung