Berita, Nasional

Jawab Tudingan Londo Ireng, Ketum AJI Nany Afrida Sebut Kebebasan Pers Terancam dan Tegaskan Jurnalis Lawan Stigma Penguasa

Repelita.net

11 August 2026 22:43 WIB • 379 view

Jawab Tudingan Londo Ireng, Ketum AJI Nany Afrida Sebut Kebebasan Pers Terancam dan Tegaskan Jurnalis Lawan Stigma Penguasa
Foto: Istimewa


Repelita [Jakarta] - Pimpinan organisasi profesi wartawan nasional menyampaikan seruan serius mengenai situasi ancaman serius terhadap kemerdekaan menyampaikan informasi di tanah air.

ADVERTISEMENT

Peringatan tersebut disampaikan saat berpidato dalam acara peringatan hari jadi perkumpulan jurnalis independen yang diselenggarakan di gedung dewan pers ibu kota.

Seluruh insan pers serta masyarakat diajak merenungkan kembali sejarah lahirnya organisasi yang menentang keras campur tangan kekuasaan.

Sikap teguh menolak tunduk di bawah kendalian penguasa dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah situasi penegakan hukum saat ini.

"Dan 32 tahun kemudian, kita kembali berada pada satu titik yang menuntut keberanian itu. Karena kondisi pers Indonesia hari ini sedang dalam bahaya," tegas Nany Afrida.

Berbagai label buruk serta stigma merendahkan dilaporkan kerap dialamatkan kepada para pencari berita selama beberapa waktu belakangan.

Tuduhan tersebut sengaja dihembuskan guna melemahkan fungsi kontrol sosial yang melekat pada profesi kewartawanan.

"Dan dalam beberapa hari terakhir, kita juga mendapatkan contoh lain tentang bagaimana stigma digunakan untuk menyerang jurnalis. Jurnalis disebut 'londo ireng'. Jurnalis disebut tidak punya otak. Jurnalis disebut kawanan sirkus," kata Nany.

Tanggapan menohok diberikan atas sebutan pengkhianat bangsa yang dilemparkan pihak tertentu karena penolakan tunduk pada kehendak penguasa.

"Kalau londo ireng dimaksudkan untuk mengatakan bahwa jurnalis adalah pengkhianat karena tidak mengikuti keinginan kekuasaan, maka saya akan mengatakan: Ya, kami londo ireng," ujar Nany.

Landasan kerja utama pers dipastikan selalu berpijak pada kebenaran objektif serta pemenuhan hak masyarakat atas informasi yang transparan.

"Karena kami memang tidak bekerja berdasarkan apa yang diinginkan penguasa. Kami bekerja berdasarkan fakta, berdasarkan kepentingan publik, berdasarkan kode etik. Kami bekerja berdasarkan hak masyarakat untuk memperoleh informasi," lanjutnya.

Ketidaksiapan kalangan pemegang kekuasaan dalam menerima kritik terbuka dinilai menjadi akar persoalan dari berbagai tekanan yang terjadi.

"Kalau mengajukan pertanyaan kritis disebut pengkhianatan, maka mungkin persoalannya bukan pada jurnalis yang bertanya. Persoalannya adalah kekuasaan yang tidak siap mendengar pertanyaan," tegasnya.

Pernyataan miring mengenai kapasitas intelektual pekerja media disikapi secara satir penuh keteguhan moral.

"Kalau kami disebut tidak punya otak, saya juga ingin mengatakan: Ya, mungkin memang kami tidak punya otak. Karena setelah melihat tekanan, ancaman, kekerasan dan ketidakpastian ekonomi, kami masih memilih jadi jurnalis," ucapnya.

Komitmen menjaga marwah jurnalisme dipastikan tidak akan pernah surut meskipun badai tekanan ekonomi maupun ancaman fisik terus membayangi.

"Jurnalis tidak akan mundur hanya karena dicap. Tugas kami tetap: mencari fakta dan menyampaikannya kepada publik," urainya.

Unggahan rekaman pidato tersebut yang dipublikasikan melalui https://www.instagram.com/p/DF2N82lPj8G/ menuai beragam tanggapan hangat serta dukungan moril dari warganet.

"Nyalakan Semangat kita semuanya," tulis akun @tri.a.santoso.35.

"Kami mendoakan kami salut dan bangga anda memilih profesi jurnalis karna anda seringkali mewakili suara rakyat," balas @cutarifah_31.

"Kejujuran adalah aset paling mahal di negeri yang sakit ini, sehat-sehat jurnalis yang masih mengungkap fakta yang sejujur-jujurnya. Kebenaran akan selalu menang," ulas @artpaper_13.

"Pemerintahan udah gapunga oposusi, jadilah jurnalis yang jadi oposisi," cuap @yaf.ie.

"Tetap tunjukkan dan kabarkan kebenaran," pinta @wsgn89wisnu_gunawan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung