Berita, Nasional

Jarwo CS Jarwi Mulai Retak, Persaingan Prabowo-Jokowi Diprediksi Memanas Jelang 27 Agustus 2026

Repelita.net

26 August 2026 16:37 WIB • 1,796 view

Jarwo CS Jarwi Mulai Retak, Persaingan Prabowo-Jokowi Diprediksi Memanas Jelang 27 Agustus 2026
Foto: Istimewa

 Repelita [Jakarta] - Istilah Jarwo dan Jarwi digunakan M Rizal Fadillah untuk menggambarkan dua jejaring kekuatan politik yang masing-masing diasosiasikan dengan Prabowo dan Jokowi.

Dalam analisis tersebut, Jarwo disebut sebagai jaringan Prabowo yang diproyeksikan tetap memiliki kekuatan setelah masa kepresidenan berakhir.

ADVERTISEMENT

Sementara Jarwi merujuk pada jaringan yang terbentuk di sekitar Jokowi sejak dirinya menjabat presiden hingga memasuki pemerintahan Prabowo dan disebut semakin terkonsolidasi.

Pada awal pemerintahan Prabowo, kedua kelompok itu dinilai masih berada dalam hubungan yang relatif beriringan atau disebut sebagai Jarwo CS Jarwi.

Posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disebut menjadi salah satu titik pertemuan kepentingan kedua jaringan tersebut dalam menghadapi pihak yang dianggap sebagai lawan.

Namun, menurut Rizal, hubungan tersebut kemudian mengalami perubahan seiring dinamika politik yang berkembang.

Jarwo mulai dicurigai memiliki kekhawatiran terhadap manuver Jarwi yang dinilai berpotensi mengganggu posisinya.

Di sisi lain, Jarwi juga disebut mempertanyakan sejauh mana Jarwo mampu menjaga kepentingan dan keberlangsungan jaringan mereka sesuai dengan kesepakatan politik yang sebelumnya terbentuk.

Rizal menilai pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi bersama Jokowi dalam sebuah pertemuan dapat dibaca sebagai sinyal politik dari kubu Jarwi.

Ia mengaitkan pernyataan tersebut dengan gagasan mengenai percepatan pergantian kepemimpinan tanpa harus menunggu Pemilu 2029.

Menurutnya, situasi politik menjelang aksi 27 Agustus 2026 di sejumlah daerah, termasuk Pati dan Madura, menunjukkan meningkatnya ketegangan politik.

Rizal kemudian mengajukan prediksi bahwa pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan untuk bertahan hingga 2029.

Ia juga menyebut Gibran sebagai figur yang dalam skenario tersebut diproyeksikan mengambil posisi kepemimpinan lebih cepat.

Dalam tulisan itu, Jokowi digambarkan masih mengamati perkembangan politik sekaligus mempertimbangkan kemungkinan perubahan yang berlangsung lebih cepat.

Rizal juga mempertanyakan posisi sejumlah institusi negara dalam konfigurasi politik yang ia sebut sebagai Jarwo dan Jarwi.

Ia menyinggung keberadaan pimpinan Polri dan TNI yang menurutnya masih memiliki keterkaitan dengan jaringan Jarwi, sebelum menghubungkannya dengan dinamika aksi massa.

Rizal selanjutnya menilai keberlanjutan konfigurasi politik tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan situasi setelah 27 Agustus 2026.

Ia menuliskan, "Mudah kok untuk cepat naikkan Gibran, turunkan saja Prabowo."

Dalam bagian lain, ia menyampaikan pandangan yang sangat keras mengenai kemungkinan perubahan kekuasaan dan hubungan antara Prabowo dengan Gibran.

Ia menuliskan, "Jika Gibran ingin hidup panjang ya segera matikan Prabowo."

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari retorika politik dalam tulisan Rizal dan tidak disertai bukti bahwa terdapat rencana nyata untuk melakukan kekerasan terhadap Prabowo.

Rizal kemudian mempertanyakan apakah hubungan kedua jaringan politik tersebut masih berada dalam posisi bersama atau telah berubah menjadi persaingan terbuka.

"Mulai besok 27 Agustus 2026 akan terbaca arah permainan apakah Jarwo itu masih cs Jarwi atau sudah tahap Jarwo vs Jarwi ?"

Ia juga mengajak pembaca memperhatikan perkembangan politik yang akan terjadi setelah aksi 27 Agustus 2026.

Menurutnya, apabila kedua jaringan masih bekerja sama, masyarakat perlu mempertimbangkan kembali keberadaan keduanya dalam menentukan arah politik ke depan.

Namun, jika hubungan tersebut telah berubah menjadi persaingan, Rizal menilai Jarwo masih memiliki kemungkinan untuk diperbaiki.

Ia menutup analisisnya dengan mempertanyakan apakah dinamika politik benar-benar diarahkan bagi kepentingan masyarakat atau justru terus menjadikan rakyat sebagai pihak yang menanggung dampaknya.

Rizal menulis, "Kita tunggu besok apakah politik itu masih berorientasi pada kepentingan rakyat atau permanen dalam menipu, mempermainkan, dan mengorbankan rakyat."

Tulisan tersebut ditutup dengan ungkapan bernada keras terhadap elite politik, "Jika yang terakhir, maka mereka adalah memang bajingan dan bangsat-bangsat. Anjing-anjing kurap he he he." (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung