Berita, Timur Tengah

Israel Siapkan Serangan Besar ke Gaza Awal Mei, Hamas Tolak Perlucutan Senjata

Repelita.net

20 April 2026 14:29 WIB • 841 view

Israel Siapkan Serangan Besar ke Gaza Awal Mei, Hamas Tolak Perlucutan Senjata
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Israel dilaporkan bersiap kembali melancarkan serangan militer besar-besaran ke Jalur Gaza pada awal Mei 2026 setelah Hamas menolak tuntutan perlucutan senjata.

Langkah agresif ini muncul di tengah kegagalan negosiasi fase kedua dari rencana perdamaian yang disponsori Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

Di saat yang sama, konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat tajam, memperbesar risiko eskalasi perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Situasi ini membuat kawasan berada dalam tekanan tinggi dengan beberapa front konflik berpotensi aktif secara bersamaan.

Hillel Biton Rosen dari Channel 14 Israel mengungkapkan bahwa militer Israel kini telah memasuki fase persiapan serius untuk operasi darat.

“Israel sedang mempersiapkan pertempuran sengit di Gaza pada awal bulan depan,” demikian pernyataan tegas Rosen yang menjadi inti peringatan dini.

Pernyataan ini menegaskan bahwa operasi militer bukan sekadar opsi, tetapi sudah menjadi rencana konkret dengan batas waktu yang jelas.

Sumber utama ketegangan saat ini adalah kegagalan negosiasi fase kedua dari rencana perdamaian yang disponsori AS.

Israel bersikeras bahwa perdamaian abadi hanya bisa terwujud jika Gaza didemiliterisasi secara menyeluruh tanpa kecuali.

Namun, Hamas berpendirian keras dan menolak semua tawaran perlucutan senjata yang diajukan oleh utusan AS, Nickolay Mladenov.

Seorang pejabat senior Hamas menyampaikan penolakannya dengan nada tegas dan tidak kompromi.

“Kami sedang menunggu Mladenov untuk memberikan jadwal yang jelas bagi Israel untuk memenuhi sisa kewajiban fase pertama, disertai jaminan untuk menghentikan pelanggaran Israel, sebelum diskusi mengenai fase kedua dimulai,” katanya.

Para pejabat Hamas memandang isu senjata tidak bisa dipisahkan dari solusi komprehensif yang menjamin hak rakyat Palestina.

Sikap all-or-nothing inilah yang kemudian memicu reaksi keras dan kemarahan dari kubu Tel Aviv.

Menghadapi kebuntuan diplomatik yang berkepanjangan, Israel mengubah haluan dari pendekatan diplomatik ke jalur militer.

Seorang koresponden terkemuka dari Channel 14 Israel mengungkapkan bahwa negaranya sedang mempersiapkan diri untuk babak baru pertempuran.

Langkah ini diambil setelah Hamas secara resmi mengumumkan penolakannya untuk melucuti senjata secara total.

Menurut analis militer, operasi yang direncanakan kali ini diperkirakan akan jauh lebih masif dibandingkan serangan terbatas sebelumnya.

Tujuannya jelas, yakni memaksa pembubaran kekuatan milisi Hamas melalui tekanan militer yang ekstrem.

"Setelah Hamas mengumumkan sikap tegasnya untuk menolak melucuti senjata Jalur Gaza, Israel bersiap kembali ke pertempuran berdarah-darah di seluruh Gaza untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut," lanjut laporan tersebut.

Keputusan Israel untuk kembali mengguncang Gaza tidak terjadi dalam ruang hampa atau isolasi regional.

Saat ini, seluruh kawasan Timur Tengah sedang berada dalam ketegangan maksimal akibat konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Krisis di Selat Hormuz semakin memperkeruh suasana dan mengancam stabilitas global.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, baru saja menyatakan bahwa angkatan lautnya siap memberikan kekalahan pahit kepada musuh-musuhnya.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali berada di bawah kendali penuh mereka.

Konflik multi-front ini membuat posisi Israel semakin terdesak dan rentan terhadap serangan balasan.

Di satu sisi mereka harus menghadapi ancaman balistik dan nuklir dari Iran yang nyata.

Di sisi lain mereka harus membereskan Hamas di Gaza yang dianggap sebagai boneka dan proxy Iran.

Hillel Biton Rosen sempat menyoroti kompleksitas situasi ini dalam laporannya beberapa waktu lalu.

Ia mencatat bahwa warga dan tentara Israel diserang dari tiga front sekaligus secara bersamaan.

Jika serangan benar-benar terjadi pada awal bulan depan, dampak kemanusiaannya diperkirakan akan sangat dahsyat dan tidak terbayangkan.

Sejak gencatan senjata Oktober 2025, PBB melalui OCHA mencatat bahwa kondisi kehidupan di Gaza tetap mengerikan.

Hingga pertengahan April 2026, lebih dari 80 persen lokasi pengungsian dilaporkan dipenuhi hama dan tikus.

Kondisi ini mengancam warga dengan wabah penyakit kulit seperti kudis yang menyebar dengan cepat.

Bantuan kemanusiaan juga terus tersendat di berbagai titik masuk perbatasan.

Pasokan bantuan turun hingga 37 persen dalam tiga bulan terakhir karena kendala operasional yang rumit.

Bahkan badan anak-anak PBB, UNICEF, terpaksa menangguhkan operasi distribusi air di Kota Gaza.

Keputusan ini diambil setelah dua sopir truk air mereka ditembak mati oleh pasukan Israel.

Situasi ini menggambarkan bahwa meskipun secara resmi sedang dalam masa damai, Gaza sudah berada di ambang ledakan kemanusiaan.

Dengan batas waktu yang sudah ditentukan secara jelas, dunia kini menunggu hitungan mundur menuju awal bulan depan.

Pertanyaannya kini, akankah diplomasi mampu menang di menit-menit akhir, atau kita akan kembali menyaksikan pemandangan Gaza berwarna merah oleh darah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung