Repelita Beirut - Operasi penyergapan yang dilakukan Hizbullah terhadap pasukan Israel di dekat Sungai Litani pada Sabtu, 28 Maret dini hari bukanlah aksi spontan, melainkan bagian dari operasi besar yang terkoordinasi langsung oleh Iran.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengumumkan pada Kamis, 26 Maret, bahwa mereka telah mengoordinasikan 220 serangan terhadap target-target yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel di seluruh kawasan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 operasi dilakukan oleh Hizbullah di Lebanon, 23 operasi oleh kelompok perlawanan Irak, dan 110 operasi rudal serta drone oleh angkatan bersenjata Iran.
Inilah konteks yang tidak banyak diketahui publik, bahwa pertempuran di perbatasan Israel-Lebanon saat ini adalah bagian dari perang proksi yang sepenuhnya dikendalikan dari Teheran.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh kantor berita IRNA, IRGC mengungkapkan rincian operasi yang mereka sebut sebagai gelombang ke-82 dari Operasi Janji Sejati 4.
Serangan ini menyasar berbagai target strategis, termasuk pusat komando dan kendali, radar komunikasi, serta hanggar drone pasukan Amerika Serikat dan Israel di berbagai lokasi.
Target-target tersebut meliputi Kiryat Shmona, Tel Aviv utara, tengah, dan selatan, serta Haifa di Israel, ditambah pangkalan militer Amerika Serikat di Al Dhafra Uni Emirat Arab.
Serangan juga diarahkan ke Pangkalan Ali Al Salem dan Arifjan di Kuwait serta Pangkalan Al Kharj di Arab Saudi, menunjukkan cakupan operasi yang sangat luas.
IRGC menyatakan bahwa serangan dilakukan menggunakan sistem rudal presisi seperti Kheibar Shekan, Zulfiqar, Emad, dan Qadr, serta drone kamikaze yang telah teruji dalam berbagai konflik sebelumnya.
Operasi ini menandai awal dari era yang berbeda dan front baru, demikian pernyataan IRGC yang mengindikasikan adanya perubahan signifikan dalam strategi perang mereka.
Dengan latar belakang koordinasi tersebut, penyergapan yang dilakukan Hizbullah di Baydar al-Nahr dekat Sungai Litani merupakan bagian integral dari gelombang operasi yang lebih besar.
Hizbullah mengumumkan dalam pernyataannya bahwa setelah memantau pergerakan pasukan musuh Israel yang bergerak maju ke arah aliran Sungai Litani, para pejuang Perlawanan Islam memancing mereka ke dalam jebakan.
Pada pukul 00:30 hari Sabtu, 28 Maret 2026, pasukan Israel berhasil dipancing masuk ke dalam jebakan tembak yang terorganisir dengan rapi, di mana mereka ditarget dengan senjata roket, peluru artileri, dan drone serang.
Zona jebakan berubah menjadi zona pembunuhan, mengakibatkan banyak korban di pihak musuh yang saat ini sedang berupaya mengevakuasi korban tewas dan terluka di bawah tembakan hebat dan perlindungan asap.
Helikopter terlihat mengevakuasi korban di daerah Baydar al-Faq'ani, sementara pertempuran masih berlangsung pada saat pernyataan resmi Hizbullah dirilis.
Koordinasi antara IRGC dan Hizbullah dalam operasi semacam ini bukanlah hal baru, karena sejak 11 Maret 2026 kedua pihak telah melakukan serangan rudal gabungan.
Serangan tersebut menargetkan tiga pangkalan militer Israel di Haifa, Tel Aviv, dan Beersheba secara bersamaan, menunjukkan tingkat sinkronisasi yang tinggi antara Teheran dan sekutunya di Lebanon.
Tingkat koordinasi ini dimungkinkan oleh kehadiran langsung perwira IRGC di Lebanon, yang menurut laporan Reuters berjumlah sekitar 100 orang setelah gencatan senjata November 2024.
Tugas utama mereka adalah membangun kembali komando militer Hizbullah yang hancur akibat serangan Israel pada 2024, termasuk pembunuhan Sekretaris Jenderal Hassan Nasrallah.
Perwira IRGC tersebut dilaporkan melatih ulang para pejuang Hizbullah, mengawasi persenjataan kembali, serta merestrukturisasi komando dari sistem hierarkis menjadi sistem desentralisasi berbasis sel-sel kecil.
Strategi ini mirip dengan Mosaik Defence yang digunakan IRGC di Iran, yang bertujuan membuat struktur komando lebih tahan terhadap serangan pemenggalan.
Mereka juga menyusun rencana serangan rudal terkoordinasi antara Iran dan Lebanon yang memungkinkan serangan simultan dari dua front berbeda.
Seorang sumber keamanan senior Lebanon mengonfirmasi bahwa komandan Republik Islam membantu Hizbullah mengatur ritme pertempuran saat ini, meskipun tidak terlibat dalam pemilihan target secara detail.
Komandan Quds Force IRGC, Esmail Qaani, dalam pernyataan pertamanya sejak perang dimulai, menekankan pentingnya Front Perlawanan dalam kampanye melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ia memperingatkan akan adanya kejutan tambahan dari proksi regional Teheran yang akan terus mengintensifkan tekanan terhadap musuh.
Di tengah eskalasi yang dikendalikan Teheran ini, Israel merespons dengan rencana ofensif besar setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan bahwa pasukannya akan mengendalikan zona keamanan hingga Sungai Litani.
Sungai Litani yang terletak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel menjadi batas yang ingin dikuasai oleh pasukan Zionis dalam upaya menciptakan zona penyangga.
Langkah ini mendapat respons keras dari Hizbullah, di mana anggota parlemen senior Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan bahwa setiap pendudukan Israel di selatan Litani akan dihadapi dengan perlawanan.
Kami tidak punya pilihan selain menghadapi agresi ini dan mempertahankan tanah kami, demikian pernyataan Fadlallah kepada Reuters yang menegaskan tekad kelompok perlawanan Lebanon.
Para analis melihat Hizbullah sebagai komponen kunci dari kemampuan Teheran untuk mencegah, menyerang, dan memberikan pengaruh langsung pada Israel melalui proksi yang terlatih.
Mantan komandan pasukan serang Angkatan Darat Lebanon, Tony Abu Samra, menjelaskan bahwa dari perspektif Iran, Hizbullah adalah bagian dari proyek velayat-e faqih yang menjadi landasan ideologis sistem Teheran.
Para pemimpin Hizbullah berulang kali menyatakan kesetiaan mereka kepada Pemimpin Tertinggi Iran, menunjukkan ikatan ideologis yang kuat di antara keduanya.
Hizbullah berfungsi sebagai bagian dari jaringan regional yang terintegrasi yang dikoordinasikan oleh Iran di Gaza, Yaman, dan Lebanon, demikian penjelasan Abu Samra mengenai struktur kekuatan poros perlawanan.
Hal ini menjelaskan mengapa Iran bersikeras bahwa setiap gencatan senjata harus mencakup Lebanon, karena Teheran memprioritaskan perlindungan sekutunya di perbatasan utara Israel.
Enam sumber regional yang mengetahui posisi Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menyampaikan kepada mediator sejak pertengahan Maret keinginan mereka untuk kesepakatan yang menghentikan serangan Israel terhadap Hizbullah.
Seorang sumber regional mengatakan bahwa Iran memprioritaskan Lebanon dan tidak akan menerima pelanggaran Israel di Lebanon seperti yang terjadi setelah gencatan senjata 2024.
Namun, keterbukaan keterlibatan Iran di Lebanon justru memicu reaksi balik dari pemerintah Lebanon yang mengumumkan duta besar Iran untuk Lebanon dinyatakan sebagai persona non grata.
Duta besar Iran diberi waktu hingga 29 Maret untuk meninggalkan negara itu sebagai respons atas dugaan keterlibatan IRGC dalam mengendalikan operasi militer Hizbullah.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menuduh IRGC bertanggung jawab atas pengaturan tindakan Hizbullah, termasuk serangan drone yang dilancarkan ke wilayah Siprus.
Hizbullah mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai dosa nasional dan strategis yang membuka pintu bagi perpecahan internal di Lebanon.
Penyergapan di Sungai Litani bukan sekadar operasi Hizbullah melawan Israel, melainkan manifestasi dari strategi Iran untuk memperluas konflik ke multi-front menggunakan proksi-proksinya sebagai senjata strategis.
Dengan 87 operasi yang dikoordinasikan IRGC bersama Hizbullah serta kehadiran 100 perwira di lapangan, Iran menunjukkan kemampuan tidak hanya menyerang langsung tetapi juga mengelola perang proksi dengan kontrol intensif.
Komandan Quds Force, Esmail Qaani, telah memperingatkan akan adanya kejutan tambahan dari proksi regional Iran, meninggalkan pertanyaan apakah Israel dan Amerika Serikat siap menghadapi eskalasi lebih lanjut di front utara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
⚡️🚨🔥 Hezbollah ambushes Israeli force in a "fiery ambush" near the Litani River(Eastern side near the border)..
— Middle East Observer (@ME_Observer_) March 28, 2026
Hezbollah announced in a statement minutes:
After monitoring the movements of an Israeli enemy army force at Baydar al-Faq'ani in the town of al-Taybeh, advancing…