Berita, Timur Tengah

Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata, Ancaman Perang Terbuka di Selat Hormuz Makin Nyata

Repelita.net

04 May 2026 18:33 WIB • 808 view

Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata, Ancaman Perang Terbuka di Selat Hormuz Makin Nyata
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase berbahaya setelah Teheran menuduh Presiden Donald Trump melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dijalankan secara tidak resmi di kawasan Teluk.

Pemerintah Teheran menilai keputusan Washington untuk mengawal kapal-kapal tanker melalui Selat Hormuz sebagai bentuk provokasi baru yang dapat memicu perang terbuka di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Situasi itu langsung memicu ancaman keras dari Republik Islam yang siap menyerang kapal tanker mana pun yang melintas.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan laut Amerika di Teluk Persia dan Laut Arab dalam beberapa hari terakhir.

Media pemerintah Iran menyebut langkah Washington sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap semangat gencatan senjata yang sebelumnya menjadi dasar meredanya ketegangan.

Langkah Donald Trump memang memicu perhatian global setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa kapal-kapal AS akan mulai mengawal tanker minyak melewati Selat Hormuz mulai Senin (4/5/2026).

Trump juga memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap jalur pelayaran internasional akan ditanggapi secara tegas terutama jika berasal dari Iran.

Pernyataan itu langsung dibalas keras oleh Teheran yang menegaskan tidak akan tinggal diam.

Pejabat keamanan Iran menegaskan bahwa negara mereka siap memberikan respons menghancurkan jika Amerika Serikat memperluas konflik.

Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap harinya.

Karena itu setiap ancaman konflik di wilayah itu langsung mengguncang pasar energi internasional.

Harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir kembali bergerak naik akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Beberapa analis energi memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz atau serangan terhadap tanker dapat memicu lonjakan harga minyak global hingga di atas 200 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu krisis ekonomi baru di berbagai negara di seluruh dunia.

Ketegangan terbaru ini tidak bisa dipisahkan dari perkembangan perang Iran melawan koalisi AS-Israel yang terus meluas dalam beberapa bulan terakhir.

Teheran sebelumnya telah menuduh Washington membantu operasi militer Israel di sejumlah wilayah strategis yang terkait dengan jaringan pertahanan Iran di Timur Tengah.

Serangan udara, operasi siber, hingga tekanan ekonomi disebut menjadi bagian dari strategi maximum pressure yang kembali dihidupkan pemerintahan Trump.

Di sisi lain Iran terus memperlihatkan sikap keras dan tidak kenal kompromi.

Pemimpin Teheran dan pejabat Korps Garda Revolusi Islam dalam beberapa pekan terakhir berkali-kali menegaskan bahwa mereka siap memberikan respons menghancurkan.

Beberapa laporan intelijen Barat menyebut Iran telah meningkatkan kesiapan unit rudal pesisir dan drone laut di sekitar Selat Hormuz.

Langkah itu dinilai sebagai sinyal bahwa Teheran siap melakukan aksi militer cepat jika konflik berubah menjadi perang terbuka.

Menurut sejumlah analis pertahanan, Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz melalui kombinasi rudal anti-kapal, drone bunuh diri, ranjau laut, dan kapal cepat IRGC.

Kemampuan tersebut membuat kawasan Teluk menjadi titik paling rawan di dunia saat ini.

Situasi semakin rumit setelah media Iran melaporkan bahwa beberapa kapal perang AS mulai bergerak lebih dekat ke titik-titik strategis di sekitar Teluk Persia.

Washington disebut ingin memastikan arus distribusi minyak tetap berjalan meski ancaman dari Teheran meningkat.

Namun Iran justru menganggap pengerahan tersebut sebagai bentuk intimidasi militer yang tidak bisa ditoleransi.

“Jika Amerika melakukan kesalahan, mereka akan menghadapi konsekuensi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya,” kata seorang pejabat keamanan Iran yang dikutip media lokal.

Pernyataan keras juga datang dari kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan seperti Irak dan Lebanon.

Milisi pro-Iran dilaporkan meningkatkan status siaga menyusul eskalasi terbaru di Selat Hormuz.

Situasi itu membuat banyak negara mulai mengeluarkan peringatan perjalanan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan distribusi energi global.

Ketegangan AS-Iran kini menjadi perhatian utama banyak negara besar di dunia.

Rusia dan China sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi militer di Timur Tengah dapat membawa dampak besar bagi stabilitas global.

Moskow menilai langkah-langkah agresif Washington berisiko menciptakan perang regional yang jauh lebih luas.

China juga terus menyerukan agar semua pihak menahan diri karena memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah.

Di Eropa kekhawatiran serupa juga mulai meningkat di kalangan para pemimpin negara.

Beberapa negara Uni Eropa mendesak dibukanya kembali jalur diplomasi untuk mencegah bentrokan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda meredanya ketegangan di kawasan tersebut.

Donald Trump justru terus mempertahankan pendekatan keras terhadap Iran tanpa kompromi.

Presiden AS itu sebelumnya mengatakan bahwa negaranya tidak akan membiarkan Teheran mengontrol jalur perdagangan internasional melalui ancaman militer.

Sementara itu Iran menilai pengawalan tanker oleh militer AS sebagai upaya memperluas dominasi Washington di kawasan Teluk.

Di tengah situasi tersebut pasar global mulai menunjukkan reaksi yang signifikan.

Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan setelah ancaman terbaru Iran muncul ke publik.

Investor mulai mengkhawatirkan potensi gangguan rantai pasok global jika Selat Hormuz benar-benar menjadi arena konflik militer terbuka.

Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa perang besar di Timur Tengah akan memicu inflasi baru di berbagai negara.

Harga energi, biaya logistik, dan harga pangan diperkirakan ikut melonjak jika distribusi minyak terganggu berkepanjangan.

Banyak pengamat menilai kondisi saat ini menjadi salah satu fase paling berbahaya dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Perang Iran versus AS-Israel kini tidak lagi terbatas pada ancaman diplomatik semata.

Konflik sudah merambah ke jalur laut, jaringan proksi regional, hingga ancaman terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan.

Meski demikian sebagian pihak masih berharap jalur diplomasi belum benar-benar tertutup.

Beberapa negara mediator di Timur Tengah dikabarkan terus melakukan komunikasi tertutup dengan Washington dan Teheran untuk mencegah situasi berubah menjadi perang penuh.

Namun selama kapal perang terus bergerak di Teluk Persia dan ancaman rudal terus dilontarkan, dunia diperkirakan masih akan menghadapi periode penuh ketidakpastian dalam beberapa pekan ke depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung