Berita, Timur Tengah

Iran Siapkan “Kartu Baru” di Hari ke-53 Perang, Isyaratkan Strategi Militer Baru di Tengah Kebuntuan dengan AS dan Israel

Repelita.net

23 April 2026 20:19 WIB • 1,039 view

Iran Siapkan “Kartu Baru” di Hari ke-53 Perang, Isyaratkan Strategi Militer Baru di Tengah Kebuntuan dengan AS dan Israel
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Memasuki hari ke-53 peperangan, Republik Islam Iran menyatakan tengah menyiapkan strategi baru di medan perang di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memberi sinyal kuat bahwa negaranya tidak akan mundur satu langkah pun dalam menghadapi tekanan eksternal.

ADVERTISEMENT

Ia menyatakan dengan tegas bahwa Iran siap menunjukkan "kartu baru" di medan perang jika konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut tanpa titik temu.

Pernyataan Ghalibaf ini muncul saat proses perundingan tahap dua yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, terhenti total.

Kebuntuan diplomasi yang berkepanjangan terjadi bahkan setelah masa gencatan senjata sementara berakhir tanpa ada perpanjangan yang disepakati bersama.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berjalan hingga tercapai kesepakatan.

Kondisi saling berseberangan ini membuat tidak ada ruang dialog yang tersisa antara Teheran dan Washington untuk mencari solusi damai.

Meskipun tidak dijelaskan secara rinci oleh pejabat Iran, "kartu baru" yang dimaksud diyakini berkaitan dengan kemampuan militer dan posisi strategis Iran.

Salah satu faktor utama yang menjadi andalan Teheran adalah kendali penuh mereka terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.

Sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini setiap harinya, menjadikannya titik tekanan yang sangat efektif.

Dalam beberapa pernyataan sebelumnya, para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade laut masih diberlakukan.

Hal ini menandakan bahwa jalur energi global dapat menjadi alat tawar yang sangat kuat di tangan Iran dalam konflik melawan AS dan sekutunya.

Ketua Parlemen Ghalibaf juga menegaskan bahwa tekanan ekonomi dan sanksi tidak akan mampu melumpuhkan tekad rakyat dan pemerintah Iran.

Ia menyebut bahwa Iran telah mampu bertahan selama 53 hari dalam kondisi perang dan siap bertahan lebih lama lagi jika diperlukan.

Sementara itu aktivitas sipil di dalam negeri Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan bertahap meskipun tekanan ekonomi masih sangat terasa.

Bandara utama seperti Imam Khomeini dan Mehrabad kembali dibuka untuk pelayanan publik setelah sebelumnya ditutup akibat eskalasi konflik.

Namun tuntutan utama Amerika Serikat yakni penghentian total program nuklir Iran tetap ditolak mentah-mentah oleh Teheran.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa program nuklir mereka bertujuan semata-mata untuk kepentingan damai dan bukan untuk mengembangkan senjata.

Perbedaan mendasar inilah yang menjadi penghalang utama dalam proses negosiasi yang hingga kini belum menemukan titik temu.

Dengan disiapkannya strategi baru oleh Iran, publik internasional kini menanti apakah konflik akan semakin memanas atau justru menemukan jalan keluar.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung