Berita, Timur Tengah

Iran Kutuk Video Tentara Israel Bermain di Taman Anak yang Hancur di Lebanon

Repelita.net

12 April 2026 13:47 WIB • 917 view

Iran Kutuk Video Tentara Israel Bermain di Taman Anak yang Hancur di Lebanon
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Sebuah rekaman video yang tersebar luas di berbagai platform media sosial sepanjang dua hari terakhir telah memicu gelombang kemarahan global.

Rekaman itu memperlihatkan sekelompok prajurit Israel yang tampak sedang bersantai di sebuah taman bermain anak-anak yang terbengkalai dan sepi.

ADVERTISEMENT

Lokasi taman tersebut berada di Lebanon Selatan, wilayah yang baru saja menjadi sasaran operasi militer Israel dengan alasan memburu anggota Hizbullah.

Dalam cuplikan video pendek itu, seorang tentara terlihat mengayunkan tubuhnya di atas ayunan taman, sementara rekannya tertawa sambil merekam momen tersebut.

Tidak tampak satu pun anak-anak di sekitar lokasi tersebut.

Warga setempat dan para aktivis hak asasi manusia menduga bahwa taman bermain itu ditinggalkan secara paksa karena pemiliknya, yaitu keluarga-keluarga dengan anak kecil, telah diusir atau menjadi korban gugur akibat serangan Israel.

"Misi kita penting, bersama kita akan menang," demikian bunyi keterangan yang menyertai unggahan video tersebut, yang kini telah dihapus namun sempat ditonton jutaan kali.

Frasa tersebut semakin memantik kemarahan publik karena dianggap merendahkan penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, yang menjadi korban utama konflik bersenjata.

Para psikolog menilai aksi tentara Israel tersebut sebagai bentuk dehumanisasi terhadap para korban perang.

Dr. Layla Hassan, psikolog klinis dari Universitas Beirut, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera menyatakan bahwa perilaku seperti itu mencerminkan kekosongan empati yang sering muncul pada pelaku kekerasan sistematis.

"Ini bukan sekadar 'bersenang-senang'. Ini adalah pernyataan simbolis bahwa ruang aman milik anak-anak telah berubah menjadi zona kemenangan militer. Ini adalah luka psikologis yang sangat dalam bagi setiap anak Lebanon yang melihat videonya," ujar Dr. Hassan.

Kampanye militer Israel yang mengklaim bertujuan membersihkan daerah perbatasan dari keberadaan Hizbullah telah memaksa lebih dari 20.000 warga Lebanon, termasuk ribuan anak-anak, mengungsi ke wilayah utara.

Data terbaru dari UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) yang dirilis pada 10 April 2026 menunjukkan angka pengungsian yang sangat tinggi.

Sebuah laporan dari Save the Children yang dipublikasikan pada awal April 2026 menyebutkan setidaknya 73 persen anak-anak pengungsi dari Lebanon Selatan menunjukkan gejala stres pasca-trauma (PTSD).

Mereka mengalami mimpi buruk, mengompol, dan ketakutan berlebihan terhadap suara-suara keras.

Laporan Amnesty International pada 8 April 2026 mencatat setidaknya 12 insiden di mana tentara Israel menggunakan properti sipil, termasuk sekolah dan taman bermain, sebagai pos pengintaian atau tempat istirahat selama operasi di Lebanon Selatan.

Tindakan tersebut melanggar Hukum Humaniter Internasional (Konvensi Jenewa) yang melarang penggunaan properti sipil untuk kepentingan militer.

Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon yang diperbarui pada 11 April 2026 menunjukkan bahwa sejak eskalasi terbaru dimulai, 47 anak-anak telah tewas dan 213 lainnya luka-luka akibat serangan Israel.

Insiden video taman bermain ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik yang lebih besar, terutama peran Iran sebagai aktor kunci pendukung Hizbullah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, dalam pidatonya di Konferensi Dukungan untuk Pengungsi Lebanon di Teheran menyatakan bahwa tindakan biadab tentara Israel adalah bukti rezim Zionis tidak memiliki batasan moral.

Lebih dari sekadar kecaman, Iran mulai mengintensifkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Lebanon.

Pada 11 April 2026, dua pesawat kargo Iran mendarat di Bandara Internasional Beirut membawa 45 ton obat-obatan, perlengkapan anak-anak, dan tim psikolog untuk menangani trauma anak-anak Lebanon.

"Ini adalah perang psikologis, dan kami akan melawannya dengan belas kasih," kata Kanaani.

Analis Timur Tengah dari Chatham House, Sanam Vakil, menjelaskan kepada BBC Persian bahwa Iran secara cerdas memanfaatkan setiap kesalahan taktis Israel untuk meningkatkan legitimasinya di dunia Arab.

"Video tentara bermain di taman anak adalah emas bagi propaganda Iran. Dalam semalam, Iran bisa mengalihkan perhatian dari krisis ekonominya sendiri ke isu kemanusiaan yang sangat menyentuh hati publik Timur Tengah," ujar Vakil.

Data terbaru dari International Crisis Group pada 12 April 2026 menunjukkan bahwa Iran telah meningkatkan pengiriman bantuan keuangan ke Hizbullah hingga 30 persen sejak Maret 2026.

Sementara itu, juru bicara militer Israel (IDF) mengeluarkan pernyataan singkat pada Jumat malam, 11 April 2026, yang mengklaim bahwa video tersebut diambil di luar konteks.

"IDF sedang menyelidiki insiden tersebut. Jika terbukti ada pelanggaran etika, prajurit yang bersangkutan akan dikenakan sanksi," demikian bunyi pernyataan yang dikutip oleh The Times of Israel.

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mendesak adanya investigasi independen, sementara PBB melalui UNICEF mengeluarkan pernyataan keras bahwa anak-anak tidak boleh menjadi target.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam konferensi pers di Ankara menyebut video tersebut sebagai bukti kegilaan perang dan menyerukan sanksi internasional terhadap Israel.

Seorang sumber dari Hizbullah yang enggan disebut namanya mengatakan kepada Reuters bahwa video tersebut telah meningkatkan jumlah pendaftar sukarelawan baru hingga 40 persen dalam dua hari terakhir.

Para ahli media sosial dari Digital Forensic Research Lab (DFRLab) melacak bahwa video tersebut telah dibagikan lebih dari 2,5 juta kali di platform X (dulu Twitter), TikTok, dan Telegram.

Ummu Ali, seorang ibu tiga anak yang diusir dari desa Naqoura, Lebanon Selatan, menceritakan kengeriannya saat anak bungsunya yang berusia 5 tahun bertanya: "Mengapa serdadu itu bermain di ayunan kami? Apakah dia mengambil boneka saya?"

"Air mata saya jatuh. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya hanya ingin pulang dan melihat ayunan itu kembali utuh untuk anak-anak saya," tambah Ummu Ali.

Palang Merah Lebanon melaporkan bahwa dalam tiga hari terakhir, lonjakan panggilan ke hotline dukungan psikologis anak meningkat hingga 300 persen.

Analis militer dari Janes Defence, Ryan Bohl, memperkirakan bahwa respons Hizbullah terhadap video ini tidak akan langsung berupa serangan roket besar-besaran, melainkan peningkatan operasi psikologis.

"Ini adalah perang persepsi. Hizbullah akan menggunakan video itu berulang kali dalam kampanye rekrutmen dan penggalangan dana mereka. Bagi mereka, ini adalah hadiah," ujar Bohl.

Anak-anak Lebanon pantas mendapatkan masa kecil, bukan menjadi korban perang atau tontonan di media sosial yang pada akhirnya akan dilupakan dalam beberapa minggu ke depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung