Berita, Timur Tengah

Iran Dipastikan Tak Hadiri Perundingan AS Hari Ini, Motjaba Khamenei: Mereka Tidak Akan Lolos dari Hukuman

Repelita.net

10 April 2026 14:36 WIB • 956 view

Iran Dipastikan Tak Hadiri Perundingan AS Hari Ini, Motjaba Khamenei: Mereka Tidak Akan Lolos dari Hukuman
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Republik Islam Iran dikabarkan tengah menangguhkan upaya negosiasi di tengah gencatan senjata yang telah dijanjikan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Laporan dari berbagai media tentang kedatangan tim negosiasi Iran di Islamabad, Pakistan pada hari ini dipastikan salah berdasarkan keterangan resmi dari Tasnim News.

ADVERTISEMENT

“Laporan dari beberapa media bahwa tim negosiasi Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan untuk bernegosiasi dengan Amerika adalah sepenuhnya salah,” bunyi keterangan dalam kanal media itu yang dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Langkah penangguhan ini diambil selama Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya terhadap gencatan senjata di Lebanon karena rezim Zionis Israel terus melakukan serangan di wilayah tersebut.

Dalam kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu ini, Republik Islam Iran telah menyodorkan sepuluh poin syarat di antaranya penghentian agresi militer termasuk ke Lebanon.

Sementara Amerika Serikat menginginkan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama konflik ditutup oleh Iran.

Ribuan warga Republik Islam kembali turun ke jalan pada Kamis (9/4/2026) dengan meneriakkan slogan anti gencatan senjata dan mengkritik kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.

Merespons situasi tersebut, Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei menulis pesan yang cukup menyentuh hati rakyatnya.

Ia memuji dukungan publik yang kuat untuk Republik Islam dan mengatakan bahwa rakyatnya telah menang dalam perjuangan mereka melawan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pesan yang dirilis pada peringatan 40 hari wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, pemimpin baru tersebut menguraikan berbagai hal penting terkait perang.

“Saudara-saudari di tanah air! Hari ini, dan hingga saat ini dalam kisah pertahanan suci ketiga yang dipaksakan, dapat dengan berani dinyatakan bahwa kalian, rakyat Iran yang heroik, telah menjadi pemenang mutlak di arena ini,” kata Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Ia juga mengatakan bahwa munculnya Republik Islam sebagai kekuatan besar dan penurunan imperialisme yang nyata telah menjadi jelas bagi semua orang di dunia.

“Ini tidak diragukan lagi merupakan berkah ilahi yang telah diberikan kepada kita melalui darah pemimpin kita yang gugur dan para martir lainnya yang berlumuran darah, saudara-saudara sebangsa yang tertindas, dan bunga-bunga yang ditaburkan di sekolah di bawah pohon mulia Minab,” tuturnya.

Pada tanggal 28 Februari, hari pertama agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sebuah sekolah dasar putri di Minab dihantam oleh rentetan rudal AS dan hancur total.

Peristiwa tragis tersebut menyebabkan sekitar 170 siswi gugur sebagai martir dalam serangan yang menimbulkan kecaman luas dari masyarakat internasional.

Mojtaba Khamenei menekankan bahwa ungkapan rasa syukur yang nyata atas berkah ilahi adalah melalui upaya tanpa henti untuk mencapai Iran yang kuat dan berdaulat.

"Yang diperlukan saat ini untuk mencapai slogan dan tujuan strategis pemimpin yang gugur ini adalah kehadiran terus-menerus rakyat kita tercinta, seperti yang telah mereka lakukan selama empat puluh hari terakhir."

Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa anggapan negosiasi dengan musuh akan mengurangi kebutuhan akan partisipasi publik tidak boleh diterima sama sekali.

"Oleh karena itu, meskipun diasumsikan bahwa kita telah memasuki fase keheningan militer, adalah tugas setiap warga negara yang mampu hadir di jalanan, lingkungan, dan masjid untuk meningkatkan partisipasi mereka."

Pemimpin Tertinggi Iran itu kemudian berpidato kepada negara-negara tetangga di selatan dengan mendesak mereka untuk mengakui keajaiban yang sedang terjadi di wilayah tersebut.

"Kepada negara-negara tetangga di selatan, saya katakan, kalian sedang menyaksikan sebuah keajaiban. Jadi, perhatikanlah dengan saksama dan pahamilah dengan baik, berdirilah di tempat yang tepat, dan waspadalah terhadap janji-janji palsu dari orang-orang jahat," tegasnya.

"Dengan izin Tuhan, kami tidak akan membiarkan para penjahat yang menyerang negara kami lolos dari hukuman."

Lebih lanjut Mojtaba juga mengatakan, "Kita pasti akan menuntut ganti rugi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan, uang darah para martir, dan uang darah untuk para korban luka dalam perang ini. Kita juga pasti akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru."

"Kita tidak menginginkan perang, dan tidak pernah menginginkannya, tetapi kita tidak akan meninggalkan tuntutan kita yang sah. Kita akan mempertimbangkan seluruh front perlawanan dalam perhitungan dan tindakan kita."

Mojtaba Khamenei kemudian menggambarkan kemartiran sang ayah sebagai salah satu tragedi terbesar yang menimpa Iran dalam sejarah modern bangsa tersebut.

"Empat puluh hari telah berlalu sejak salah satu kejahatan terbesar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan Iran, dan salah satu kesedihan publik terberat dalam sejarah bangsa ini," demikian bunyi pesan tersebut.

Ia mendesak rakyat Iran untuk tetap menjaga semangat balas dendam atas darah para pahlawan mereka yang gugur tetap hidup di dalam hati.

"Meskipun masa berkabung resmi untuk pemimpin yang gugur telah berakhir, tekad yang kuat untuk membalas dendam atas darah suci para martir kita dari perang kedua dan ketiga yang dipaksakan tetap hidup di dalam hati dan jiwa rakyat, yang akan terus berjuang untuk mewujudkannya," katanya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung