Berita, Timur Tengah

Investigasi Haaretz Ungkap Fakta Mengerikan: 24.000 Tentara Israel Alami Cedera Otak, Sistem Rehabilitasi Kolaps

Repelita.net

10 April 2026 14:46 WIB • 1,026 view

Investigasi Haaretz Ungkap Fakta Mengerikan: 24.000 Tentara Israel Alami Cedera Otak, Sistem Rehabilitasi Kolaps
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk serangan udara dan rudal balistik yang dilancarkan antara Israel dan Iran, sebuah bom waktu lain diam-diam meledak di dalam masyarakat Zionis berupa cedera otak yang diderita puluhan ribu tentaranya sendiri.

Sebuah investigasi mendalam oleh media terkemuka Israel, Haaretz, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan tentang skala sebenarnya dari krisis kesehatan mental dan neurologis di kalangan tentara.

ADVERTISEMENT

Meskipun militer Israel hanya mengkonfirmasi sekitar 400 kasus cedera otak traumatis (CBT) pada tentara yang bertempur di Gaza, laporan tersebut mengklaim bahwa angka sebenarnya mendekati 24.000 tentara.

Kesenjangan data yang sangat timpang ini bukan sekadar kesalahan administratif melainkan cerminan dari krisis kemanusiaan berskala besar yang secara sistematis terabaikan oleh sistem.

Investigasi Haaretz menyoroti kegagalan sistemik yang mengkhawatirkan di mana rezim Israel belum mengembangkan rencana yang tepat untuk menangani isu besar yang dihadapi para tentaranya.

Para ahli yang dikutip oleh media Al-Quds menjelaskan bahwa diagnosis TBI seringkali sangat kompleks karena gejalanya yang tumpang tindih dengan Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD).

Seorang profesor psikologi eksperimental bernama Profesor Alon Friedman menyebut fenomena ini sebagai trauma ganda di mana kerusakan otak organik bercampur dengan keruntuhan psikologis.

Laporan-laporan media Ibrani menggambarkan tentara yang kembali dari Gaza berubah menjadi orang asing bagi keluarga mereka sendiri.

Mereka menghadapi kesulitan parah dalam memahami situasi sosial, membuat keputusan harian sederhana, serta mengalami gangguan tidur dan kehilangan ingatan akut.

Kesaksian seorang ibu dari tentara Oz Okampo yang cedera di Khan Yunis menggambarkan secara gamblang bahwa keluarganya menerima orang yang sama sekali berbeda dari orang yang mereka lepas saat berangkat.

Hal senada diungkapkan keluarga tentara Udi Reches yang berusia 20 tahun yang kehilangan kemampuan bicaranya selama berminggu-minggu setelah cedera.

Keluarganya harus mengajarinya kembali keterampilan dasar, mulai dari membentuk kalimat sederhana hingga mengelola urusan harian.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa seperempat dari korban luka di Gaza menderita cedera yang mengubah hidup.

Dr. Yaron Sahar, seorang pejabat Kementerian Kesehatan Israel, menjelaskan mekanisme cedera ini terjadi karena gelombang ledakan menyebabkan otak terbentur keras di dalam tengkorak.

Hal ini merobek serabut saraf dan merusak kemampuan fungsional, konsentrasi, serta inisiatif sosial korban secara permanen.

Dr. Gili Givati dari Departemen Rehabilitasi Kementerian Pertahanan memperingatkan tentang perubahan kepribadian yang mendalam yang digambarkannya sebagai kejutan nyata bagi keluarga.

Jika krisis 24.000 cedera otak sudah menjadi bencana besar, lalu bagaimana jadinya ketika Israel membuka front perang baru melawan Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, konflik telah meningkat drastis dengan Israel dan Amerika Serikat meluncurkan Operasi Roaring Lion.

Pada tanggal 6 April 2026, militer Israel mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan besar-besaran di Teheran dan seluruh Iran.

Puluhan pesawat tempur Israel menyerang tiga bandara di Teheran, menghancurkan puluhan helikopter dan pesawat, serta menargetkan infrastruktur kunci Korps Garda Revolusi Islam.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Israel yang memaksa sistem pertahanan udara Israel diaktifkan.

Sirene berbunyi di Yerusalem serta Wilayah Barat dan warga Israel berlindung di tempat perlindungan bom.

Di tengah tekanan internasional, Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada tanggal 7 April 2026 melalui mediasi Perdana Menteri Pakistan.

Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa rezimnya tidak akan berhenti meskipun gencatan senjata telah disepakati.

"Saya ingin memperjelas: Kami masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan, dan kami akan mencapainya—baik melalui kesepakatan atau melalui pertempuran yang diperbarui," kata Netanyahu.

"Kami siap kembali bertempur kapan pun diperlukan. Jari kami tetap berada di pelatuk. Ini bukanlah akhir dari kampanye," tegasnya.

Pernyataan Netanyahu ini sangat kontras dengan sikap pemimpin tertinggi Iran yang baru, Sayyid Mojtaba Khamenei.

Dalam pidato perdananya, Sayyid Mojtaba menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang dan tidak menginginkannya.

"Namun kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam keadaan apa pun," ujarnya dengan tegas.

Meskipun mengklaim tidak menginginkan perang, Iran memperingatkan akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru.

Eskalasi perang melawan Iran ini menjadi bumerang bagi kemampuan Israel dalam merawat veteran cedera otaknya sendiri.

Jika perang skala penuh dengan Iran meletus, para ahli memperkirakan jumlah korban jiwa dan cedera otak akan melonjak secara eksponensial.

Para pengamat militer memperingatkan bahwa perang melawan Iran berpotensi menghasilkan gelombang baru TBI yang bahkan lebih besar dari yang dialami di Gaza.

Getaran akibat ledakan rudal dan serangan udara akan memapar lebih banyak tentara pada risiko cedera otak yang serius.

Yang lebih memprihatinkan adalah militer dan institusi medis Israel belum siap menyerap jumlah disabilitas permanen yang luar biasa ini.

Saat ini saja, dengan 24.000 kasus yang tidak tertangani, sistem rehabilitasi Israel sudah dalam kondisi kewalahan.

Jika perang dengan Iran benar-benar meletus, sistem tersebut kemungkinan besar akan runtuh total.

Krisis ini menyoroti biaya tersembunyi dari perang modern yang dijalankan Israel di dua front secara bersamaan.

Di Gaza, Israel meninggalkan luka neurologis pada ribuan tentaranya sendiri tanpa penanganan memadai.

Sementara Netanyahu terus berbicara tentang melanjutkan pertempuran, 24.000 veteran justru bergulat dengan memori yang hilang dan ledakan amarah.

Pertanyaan besarnya kini adalah mampukah Israel mengalihkan fokus dari rudal musuh ke rumah sakit yang penuh sesak.

Ataukah para pahlawan yang terluka ini akan menjadi generasi yang terlupakan di tengah gemuruh perang yang berkepanjangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung